Hunian Nyaman, Dambaan Penyintas Gempa Sulbar

Masuk pekan ke empat pascagempa, masih banyak penyintas gempa Sulbar yang bertahan di tenda pengungsian. Kondisi mereka memprihatinkan dan mengidamkan hunian yang lebih nyaman.

Syamsul, warga Desa Saletto, Simboro, Kabupaten Mamuju sedang mencari harta di puing-puing rumahnya yang hancur karena gempa M6,2. Saat ini ia tinggal di pengungsian karena rumahnya rusak parah dan belum memiliki dana untuk membangun kembali. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU Tiap kali turun hujan, tanah di Lapangan Tembak Jendral M. Yusuf, Jalan Padang Baka, Kelurahan Rimuku, Mamuju pasti menjadi becek. Tanah yang sebelumnya berumput itu kini gundul karena terinjak-injak seiring dengan banyaknya penyintas gempa Sulawesi Barat yang bertahan di sana. Belum lagi udara yang kadang tak bersahabat bagi para penyintas. Ketika siang, panas begitu menyengat, sedangkan saat hujan atau malam udara dingin begitu terasa. Penyintas yang bertahan di wilayah Padang Baka ini berasal dari berbagai kelurahan di sekitar lapangan. Ratusan jiwa yang terdiri dari berbagai kalangan usia tersebut mengungsi karena rasa takut yang mendalam serta rumahnya mengalami kerusakan akibat gempa bumi.

Emalia, merupakan salah satu penyintas yang bertahan di pengungsian lapangan tembak Jalan Padang Baka. Ia bersama suami dan anak yang masih usia sekolah menempati salah satu bangunan di lapangan tersebut. Di sana, ia bersama puluhan jiwa lain menjadi penyintas dengan bantuan kemanusiaan sebagai pemenuh kebutuhan hidup.

“Di sini kalau hujan ya ikut kebasahan, kalau malam ya kedinginan,” ujar Emalia, Kamis (21/1/2021) lalu. Dari pantauan ACTNews kehidupan penyintas di lapangan tembak Jalan Padang Baka begitu memprihatinkan. Antar keluarga tidak ada sekat sehingga sangat rentan tertular virus corona.

Serupa di Padang Baka, penyintas gempa Sulawesi Barat yang berada di lapangan Dusun Sendana, Desa Botteng Utara, Kecamatan Simboro, Mamuju juga harus menyambung kehidupan mereka pascagempa dengan memprihatinkan. Rumah warga yang rata-rata semi permanen mengalami kerusakan ringan hingga parah. Sedangkan di pengungsian mereka harus tinggal di dalam satu tenda yang memuat lebih dari satu keluarga. Jelas ini menjadi permasalahan yang besar, selain kebersihan, tenda yang berisi banyak jiwa dari banyak keluarga sangat memungkinkan mudahnya Covid-19 menyebar.

Salah satu penyintas yang tinggal di pengungsian lapangan Dusun Sendana ialah Baharia (38) bersama suami dan tiga orang anaknya yang masih kecil. Di tenda yang di dalamnya hanya terdiri dari satu ruangan tersebut menjadi tempat berbagai aktivitas keluarga Baharia, mulai dari memasak, istirahat, hingga bercengkrama. Namun, ketika udara panas, biasanya Baharia mengajak anaknya untuk keluar tenda agar bisa menikmati udara yang lebih segar.

“Maaf ya mas berantakan, begini adanya,” ucap Baharia ketika mempersilakan tim ACTNews berkunjung ke tendanya, Ahad (24/1/2021).

Ketika masuk ke dalam tenda pengungsian milik keluarga Baharia, udara panas yang pertama kali dirasakan. Hal tersebut karena hari itu cuaca begitu cerah dan bangunan tenda yang rendah, bahkan orang dewasa tak bisa berdiri tegap di dalam tenda tersebut. Belum lagi mayoritas bangunan terdiri dari terpal plastik membuat udara panas mudah masuk ke dalam ruangan tenda, hal ini tentu tak nyaman bagi pengungsi usia anak-anak dan lansia. Alasnya pun langsung tanah yang jika hujan akan becek. Sedangkan sekat penutup sisi tenda tersebut dari terpal tanpa pintu, sehingga siapapun yang melintas di depannya bisa melihat seisi tenda.

Ketika ditanyakan kapan akan kembali ke rumahnya, Baharia belum bisa memastikan. Karena, rumah miliknya mengalami kerusakan berat dan belum memiliki anggaran untuk membangun kembali. “Saya enggak tahu sama bingung kapan bisa pindah dari sini (pengungsian),” kata Baharia yang merasa sedih karena anaknya yang masih usia 14 bulan harus tinggal di pengungsian tanpa kejelasan kapan akan kembali ke tempat yang lebih nyaman.[]