Hunian Nyaman Terpadu untuk Penyintas Tsunami di Donggala

Hunian Nyaman Terpadu untuk Penyintas Tsunami di Donggala

ACTNewsDONGGALA - Sepanjang pesisir itu kini datar, tanpa bangunan sama sekali di atasnya. Hanya ada puing kehancuran, puing sisa tragedi besar Jumat (28/10) petang, lebih dari sebulan silam. Tidak hanya di sepanjang Pantai Talise, Kota Palu, tsunami fatal di Jumat malam itu pun menyapu habis seluruh pesisir Pantai Barat Donggala, khususnya di wilayah sekitar Kecamatan Tanantovea.

Hari itu, tiga kali sapuan gelombang tsunami benar-benar membuat porak-poranda sepanjang pesisir Pelabuhan Wani, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala. Bahkan, sebuah kapal besar, Sabuk Nusantara 39 terdorong tsunami. Kini kapal itu terdampar sepenuhnya, bertengger tak bergerak di atas dermaga Pelabuhan Wani.

\

Sepanjang Pesisir Pantai Barat, dari Palu sampai Donggala, disapu tsunami 

Sebulan berselang pascatragedi besar di Pesisir Pantai Barat Donggala, ratusan korban jiwa sudah dimakamkan jauh-jauh hari, tapi duka itu masih ada. Pasalnya, tidak sedikit jumlah keluarga yang kini mengalami kehilangan rumah. Bukan hanya retak terdampak gempa, tapi kini rumah itu lenyap sepenuhnya. Tinggal tersisa ubin berwarna kelam di atas pondasinya. Ubin satu-satunya yang menjadi saksi bahwa gelombang tsunami berwarna hitam itu menyapu habis semua di sepanjang pesisir.

“Di dekat kapal (Sabuk Nusantara 39) yang naik ke daratan itu sebelumnya rumah nelayan semua. Tapi sekarang habis. Mereka tinggal di tenda pengungsian,” tutur Andri Habrin, 36 tahun, Kepala Desa Wani 1, Kecamatan Tanantovea.

Kapal Sabuk Nusantara 39, terdampak dan ditinggalkan setelah terbawa tsunami ke atas daratan Pelabuhan Wani, Donggala 

Hunian Nyaman Terpadu ketiga di Desa Wani 1

Melanjutkan upaya pemulihan pascabencana di Kota Palu juga Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi, Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali menginisiasi Hunian Nyaman Terpadu atau Integrated Community Shelter (ICS). Kali ini, Hunian Nyaman Terpadu yang ketiga dibangun di Desa Wani 1, diperuntukkan untuk warga Wani 1, penyintas tsunami yang selamat dari terjangan ombak, namun rumahnya seluruhnya tak bersisa.

“Data yang ada di pemerintah desa sekarang, di Dusun 1 dan Dusun 2, Desa Wani 1 ada 68 rumah terdampak tsunami. Semua rumah milik nelayan di pesisir itu rata dengan tanah,” jelas Andri.

Seremoni peletakan batu pertama Hunian Nyaman Terpadu di Desa Wani 1

Kamis (1/11) kemarin, di atas tanah lapang berukuran 119 m x 35 m, seremoni peletakan batu pertama dilangsungkan. Dihadiri oleh pemerintah kecamatan dan desa, hari Kamis itu pun jadi tanda dimulainya proses pembangunan puluhan unit Hunian Nyaman Terpadu di Desa Wani 1.

Sri Eddy Kuncoro selaku Direktur ACT memaparkan, Hunian Nyaman Terpadu (ICS) di Desa Wani 1 akan menerapkan konsep yang sama dengan kompleks ICS lainnya.

“Kenapa kami menamakan ini Integrated Community Shelter (ICS)? Karena yang kami bangun ini bukan hanya hunian. Kami lengkapi huniannya dengan sarana ibadah, musala yang bisa digunakan untuk mengaji anak-anak. Kemudian di beberapa hunian lain juga kami bangun sekolah, bisa tiga sampai enam kelas. Lalu ada juga fasilitas dapur umum, air bersih serta toiletnya. Kemudian area bermain, klinik, dan kantor pengelola ICS,” jelas Sri Eddy Kuncoro, atau Ikun panggilan akrabnya, di depan warga Wani 1.

Andi Habrin, Kepala Desa Wani 1 mewakili warganya mengucapkan rasa syukur

Ikun mengatakan, untuk penyintas tsunami di Desa Wani 1, jumlah hunian yang bakal dibangun berjumlah 60 pintu.

Sementara itu, di depan warganya, Andi Habrin mengaku penuh syukur. Ia menyatakan menyetujui seluruh konsep Hunian Nyaman Terpadu ACT. “Pada prinsipnya kami menyetujui dan merasa bangga, hanya sebulan setelah bencana, sudah ada proses pembangunan hunian di banyak lokasi sekaligus, termasuk di desa kami ini,” kata Andri.

Porak-poranda di sepanjang Pesisir Pantai Barat Donggala

Beberapa pekan ke depan, ketika seluruh proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu di Desa Wani 1 rampung, pemerintah desa yang bakal ditunjuk untuk memilih keluarga mana saja yang bakal mendapat prioritas hunian.

“Kami sudah menyampaikan ke warga terdampak tsunami, skala prioritas kami terapkan. Mereka yang didahulukan mendapat hunian adalah nelayan-nelayan yang sudah tidak lagi punya perahu, semua alat tangkap mereka hilang, perahu, alat pancing, rumah mereka juga rata tanah. Semua habis,” jelas Andri.

Sementara itu, di balik tanah lapang yang digunakan untuk membangun Hunian Nyaman Terpadu Desa Wani 1, ada kisah tentang keikhlasan. Adalah Suhria Intan (48) seorang warga Desa Wani 1, yang juga menjadi pegawai Kecamatan Tanantovea. Setelah mendapat restu dari Suhria, satu kompleks ICS di Desa Wani dibangun di atas tanah miliknya.

Suhria Intan, pemilik lahan yang bakal dibangun ICS di Desa Wani 1

“Alhamdulillah ya Allah terima kasih. Daripada tanah ini tidak difungsikan, saya sekeluarga ikhlas memberikan. Insya Allah menjadi berkah. Bencana tsunami juga menjadi pengingat, bahwa harga itu tidak dibawa mati. Rumah saya di pesisir juga terkena tsunami. Sudah tidak lagi layak huni,” cerita Suhria.

Sampai sebulan pascegampa, Suhria pun menjadi penyintas yang tinggal sementara, mengungsi seperti warga pesisir Wani lain. “Tanah ini, lahan ini, harta saya semoga menjadi amal jariah. Semoga bermanfaat penuh, untuk warga Wani 1 yang sama-sama tidak lagi punya rumah setelah tsunami datang,” ujar Suhria sembari berlinang air mata. []