Hunian untuk Penyintas Gempa di Desa Wayatim Segera Dibangun

Sebanyak 22 hunian keluarga tersebut diperkirakan akan memakan waktu paling lambat satu bulan lamanya.

Hunian untuk Penyintas Gempa di Desa Wayatim Segera Dibangun' photo
Tim hingga hari ini telah menyiapkan sejumlah barang material untuk diangkut dari Pulau Bacan menuju Desa Wayatim. (ACTNews)

ACTNews, HALMAHERA SELATAN – Sebanyak 22 unit hunian keluarga atau Family Shelter segera dibangun untuk para penyintas gempa sekuat M7,2 di Halmahera Selatan. Pembangunan Family Shelter yang didukung oleh Grab dan Shopee ini, berada di Desa Wayatim, Kecamatan Bacan Timur Tengah. Pembangunan akan dimulai pada Rabu (16/10).

“Untuk saat ini kita masih di Pulau Bacan, sedang mempersiapkan bahan-bahan material dan tukang dan nanti kalau sudah selesai langsung kita muat bahan materialnya. Insyaallah, Selasa (15/10) besok kita sudah berangkat ke sana dan memulai pembangunan pada hari Rabunya,” ujar Dede Abdul Rochman selaku Penanggung Jawab Pembangunan Hunian Keluarga – Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Senin (13/10) ini.

Dede menambahkan, tim juga telah melakukan survei lokasi terdampak, seperti memastikan bagaimana akses jalan hingga sampai ke Desa Wayatim. Hal ini mengingat perjalanan dari Pulau Bacang ke Desa Wayatim sendiri cukup jauh.

“Setelah hasil survei, ada beberapa tahapan untuk mengangkut barang material baik mulai jalan darat sampai jalur laut. Melalui darat dengan kendaraan dari Kota Labuha, Pulau Bacan, menuju Desa Tomara memakan waktu perjalanan 4 jam dengan melintasi 5 sungai tanpa ada jembatan. Dan itu kalau ada hujan, tidak bisa di seberangi,” jelas Dede.


Akses menuju Desa Wayatim masih jadi kendala untuk menurunkan berbagai bantuan di sana. (ACTNews/Dede Abdul Rochman)

Setelah sampai Desa Tomara, tim akan melanjutkan lagi perjalanan melalui jalur laut dengan waktu tempuh selama satu jam. Mereka telah menyewa kapal salah seorang nelayan di Desa Tomara yang dapat mengangkut beban hingga maksimal satu ton agar bisa membawa bahan-bahan material tersebut sampai ke Desda Wayatim.

Letak Desa Wayatim yang sedemikian jauh dan cukup terisolir, membuat pemulihan pascagempa di desa ini cukup sulit. Berdasarkan data tim ACT di lapangan per bulan Juli lalu, jumlah pengungsi mencapai 62 kepala keluarga dan 60 rumah rusak akibat gempa yang terjadi pada Ahad (14/10) silam. Hunian menjadi salah satu kebutuhan mendesak para pengungsi hingga kini.

Dede memperkirakan pembangunan akan berjalan selama satu setengah bulan bila tidak ada halangan yang berarti, terutama dari segi cuaca, “Insyaallah, 1,5 bulan paling lambat pembangunannya. Dan mudah-mudahan selama pembangunan cuaca bersahabat,” harap Dede. []

Bagikan