Idap Celebral Palcy, Puluhan Tahun Sri Tak Dapatkan Penanganan Medis

Ketika usianya 22 tahun, Sri Mulyani baru diketahui mengalami kelumpuhan otak, padahal gejalanya sudah ada sejak usia 3 bulan. Selama puluhan tahun itu juga ia tak mendapatkan penanganan medis karena kondisi ekonomi keluarga yang prasejahtera.

Idap Celebral Palcy, Puluhan Tahun Sri Tak Dapatkan Penanganan Medis' photo
Sri Mulyani yang hanya bisa berbaring di rumahnya di Kota Tasikmalaya karena mengalami kelumpuhan otak. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA – Usianya kini tengah menginjak 22 tahun, tapi perkembangan fisik Sri Mulyani tidak seperti orang dewasa pada umumnya. Merebahkan tubuh di kasur menjadi keseharian perempuan asal Cibeas, Kelurahan Gunung Gede, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmlaya ini. Hal tersebut bukanlah tanpa sebab. Anak ke-5 dari 5 bersaudara ini dinyatakan mengalami celebral palcy atau juga sering disebut lumpuh otak sejak kecil. Namun, penyakit ini baru diketahui setelah 22 tahun usia Sri Mulyani, atau 13 Oktober 2020 lalu.

Awal sakit Sri Mulyani dimulai ketika mengalami demam tinggi saat usia 3 bulan. Sayang, kondisi ekonomi keluarga yang prasejahtera membuat orang tua Sri yang hanya bekerja sebagai buruh cuci baru membawa anaknya untuk diperiksa secara medis ketika usia telah menginjak 7 bulan, itu pun tidak menyeluruh. Hal ini yang kemudian membuat penyakit yang Sri Mulyani alami tidak terdeteksi sejak awal, sehingga ia harus mengalami kelainan pertumbuhan.

Pascapengobatan di usia Sri Mulyani yang baru 7 bulan itu, orang tuanya tidak pernah lagi membawa anaknya ke dokter untuk memastikan kondisi kesehatan. Hingga pada akhirnya Tim Pemuda Penggerak kota Tasikmalaya (Pager Asik) membawa Sri Mulyani berobat pada 13 Oktober lalu sekaligus ingin mengatahui sakit apa yang dialami Sri Muyani. Dokter pun memvonis Sri Mulyani mengalami kelumpuhan otak dan tidak bisa lagi mengalami tumbuh kembang secara normal.

“Saat ini kondisi Sri Mulyani hanya bisa terbaring di tempat tidur dan tidak bisa duduk, tidak bisa bicara, pertumbuhan fisik tidak normal dan kakinya sering kali kejang,” ungkap Fauzi Rizki Pratama, Ketua Pager Asik.

Selain tak lagi bisa tumbuh secara normal, keadaan gizi Sri saat ini cukup rendah dan mengalami ruam popok. Dokter menyarankan agar asupan gizi yang baik wajib dikonsumsi, salah satunya lewat susu. Ia juga harus rajin menggerakkan tubuh. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan Sri.

Mengatahui kondisi Sri yang memprihatinkan, Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Senin (16/11) mengirimkan kebutuhan harian untuk Sri. Makanan, susu, biskuit serta kebutuhan popok diserahkan dari hasil kolaborasi dengan Pager Asik. Bantuan ini diharapkan bisa mendukung perbaikan gizi Sri yang jarang mendapatkan penanganan medis ini. “Bantuan yang tersalurkan merupakan buah dari kedermawanan masyarakat,” jelas Fauzi Ridwan dari Tim Program ACT Tasikmalaya.[]