Iftar Berigizi Cegah Pengungsi Yaman Lapar Seharian Penuh

Paket iftar dibagikan ke lebih dari 500 pengungsi Yaman di Kota Taiz. Bantuan ini diberikan agar para pengungsi memiliki makanan untuk berbuka, dan mencegah mereka agar tidak kelaparan seharian penuh.

bantuan iftar yaman
Anak-anak pengungsi Yaman di Kota Taiz menerima paket iftar dari tim ACT. (ACTNews)

ACTNews, TAIZ – Warga Yaman di Kota Taiz harus tinggal bertahun-tahun di tenda pengungsian. Konflik membuat kehidupan mereka porak poranda. Bahkan untuk menyambung hidup, mereka tidak tahu apa yang bisa mereka makan esok hari. Kemiskinan dan kelaparan masih menjadi kekhawatiran terbesar bagi mereka yang terkungkung perang.

Terlebih pada bulan suci Ramadan, kekhawatiran akan dua hal itu pun semakin memuncak. Ditambah minimnya kesempatan bagi mereka untuk memperoleh akses pemenuhan kebutuhan. 

Bahan makanan sukar didapat. Kalaupun ada bahan pangan, tidak ada uang yang bisa digunakan untuk membeli. Salah satu hal yang mereka gantungkan untuk bertahan hidup adalah kedermawanan masyarakat dunia.

Krisis inilah yang tengah diredam para dermawan Indonesia. Ramadan ini, masyarakat Indonesia berikhtiar menjaga kesediaan makanan untuk berbuka saudara di Yaman. Melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT), kepedulian itu ditunaikan. Pertengahan Ramadan ini, iftar bergizi dibagikan kepada para pengungsi Yaman di Kota Taiz.

"Menjalani bulan Ramadan, tentu kita tidak ingin saudara-saudara di Yaman berpuasa selama 24 jam akibat tak ada makanan. Tidak boleh dibiarkan momen berbuka puasa mereka hanya ditemani piring dan gelas kosong yang kering kerontang. Oleh karenanya, aksi distribusi iftar ini dilakukan," ujar Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Network ACT, Rabu (20/4/2022)

Paket iftar dibagikan sedikitnya untuk 580 pengungsi di beberapa daerah di Kota Taiz, barat daya Yaman. Satu paket iftar setidaknya berisi nasi, daging, sayur, dan roti. Tim ACT dan relawan di Yaman mendistribusikan bantuan ini dengan mengunjungi langsung tempat tinggal tiap pengungsi.

Konflik di Yaman telah berlangsung selama lebih dari tujuh tahun. Dalam waktu tersebut, puluhan ribu nyawa telah melayang. Saat ini diperkirakan sebanyak 21 juta warga sipil butuh bantuan kemanusiaan. Jumlah itu adalah 80 persen dari total penduduknya. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan kondisi Yaman saat ini adalah krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Ada setengah juta anak yang diperkirakan mengalami kekurangan gizi akut. []