Iftar Bersama Hapuskan Duka Pengungsi Internal Rohingya di Myanmar

Etnis Rohingya masih harus menghadapi Ramadan yang penuh dengan keterbatasan di pengungsian.

Iftar Bersama Hapuskan Duka Pengungsi Internal Rohingya di Myanmar' photo

ACTNews, MYANMAR - Sebelum berbuka puasa, ada doa panjang yang mengalun dari pengungsi di Desa Doe Ok The’ Ma yang ada di Kota Buthidaung, Myanmar sore itu. Di antara doa serta zikir yang terdengar dari bibir pengungsi Rohingya, terselip harapan agar Allah selalu melimpahkan berkah-Nya.

Setelahnya mereka mulai mencicipi mi goreng yang disediakan di depan masing-masing dari mereka. Daging sapi menjadi lauk pelengkap yang menemani hidangan pokok tersebut. Dahaga pun terhapus dengan tegukan dari jus dan sari buah-buahan yang disediakan pada Jumat (31/5) sore itu.


“Sebanyak 100 pengungsi Rohingya di Buthidung ini merupakan pengungsi internal dari Kotapraja Rathedaung. Mereka lari dari rumah dan mencari perlindungan ketika tentara Myanmar menetapkan operasi pembebasan tanah,” ujar Rudi Purnomo dari tim Global Humanity Response (GHR) - ACT.

Sepanjang 2018, duka memang kerap menghampiri etnis Rohingya. CNN Indonesia mencatat, penduduk dari etnis tersebut tidak hanya dibantai, namun juga dibakar tempat tinggalnya. Tidak hanya sampai di situ, jalur-jalur pelarian etnis Rohingya pun terpasang oleh ranjau. Akibatnya dari semua itu, lebih dari 5.000 orang meninggal dan 700.000 lainnya menyemut untuk mengungsi ke Bangladesh.

“Sebagian orang Rohingya melarikan diri dan mengungsi ke Bangladesh, sementara sebagian lagi bermukim di Desa Doe Ok The' Ma dan di Buthidaung bagi yang masing ingin tinggal di Myanmar,” ungkap Rudi.


Kendati hidup dalam kesusahan, Rudi menjelaskan jarang ada bantuan yang turun untuk mereka. Terutama dari pemerintah Myanmar sendiri yang seharusnya melindungi warga negaranya.

Melalui distribusi paket iftar kepada pengungsi internal Rohingya, ACT membagikan kebahagiaan Ramadan dari masyarakat Indonesia kepada mereka. Rudi berharap dengan adanya bantuan ini dapat meringankan kesulitan mereka selama menjadi pengungsi, terutama saat Ramadan. []


Bagikan