Ikhtiar Ceriakan Idulfitri, Walau Yaman Digempur Perang dan Pandemi

Yaman masih berada dalam kondisi yang sulit. Perang bertahun-tahun, sampai virus corona kini harus mereka hadapi. Di tengah segala kesulitan tersebut, ACT tetap menyalakan semangat mereka dengan menunjukkan kepedulian. Seperti pada Idulfitri kali ini, paket Lebaran dari Indonesia menghibur ratusan anak Yaman di hari raya.

Ikhtiar Ceriakan Idulfitri, Walau Yaman Digempur Perang dan Pandemi' photo
Anak-anak di Yaman bersama paket-paket pangan mereka. (ACTNews)

ACTNews, YAMAN – Tangan-tangan kecil itu menggenggam masing-masing paket yang diberikan kepada mereka. Beberapa anak malah tidak segan menempelkan baju yang baru mereka dapat ke badan, seolah-olah sedang mematut diri di depan cermin. Warna-warni baju yang datang ke rumah mereka di  Kota Taiz, Yaman, menjadi salah satu isi paket Lebaran yang memeriahkan Idulfitri mereka hari itu.

Selain Taiz, paket-paket amanah dari Indonesia tersebut juga datang menghibur mereka ke Kota Taiz, Hamdan, Al Wahda, Amanh Al asimah, Al Zuhrah. Mengingat mimpi-mimpi buruk selalu menghantui mereka selama 6 tahun ke belakangan. Perang mereka lalui dari hari ke hari. Kini ancaman virus corona juga mereka hadapi.

“Jadi selain ancaman perang, warga juga sudah mulai waspada dengan virus corona. Kita ketahui bersama untuk warga di negara yang dalam kondisi aman saja sulit dalam menghadapi pandemi ini, apalagi untuk mereka yang tinggal di tengah perang,” kata Said Mukkafiy dari Tim Global Humanity Response (GHR) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Kamis (28/5) ini. Sampai saat tulisan ini diturunkan, tercatat 265 kasus infeksi corona di Yaman di mana 53 di antaranya meninggal dunia.

Didukung oleh Ibu Ratih Sulanjari & Bapak Bambang, serta Ibu Hertin Sigit, ACT membawa kegembiraan kepada 812 anak yang ada di beberapa titik di Yaman pada Jumat (22/5) dan Sabtu (23/5) lalu. Said berharap sesulit apapun keadaannya, mereka dapat tetap semangat menjalani hidup.


Salah seorang anak menerima paket lebaran dari ACT. (ACTNews)

“Sebanyak 812 anak penerima manfaat ini adalah anak yatim dan sebagian lagi berasal dari keluarga prasejahtera. Kita berharap walaupun keadaan mereka sangat sulit sekarang ini, mereka dapat tetap berjuang. Dan kita semua di sini yang mendorong mereka dengan kepedulian kita,” ungkap Said.

Dikutip dari BBC Indonesia, Dr Shalal Hasel, seorang pejabat departemen pemantauan epidemiologi di provinsi Lahj, Yaman, terdengar sedih ketika menjelaskan tentang kondisi Yaman di bawah pandemi. "Anda akan tahu tentang situasi kesehatan yang memburuk di Yaman - terutama setelah konflik dan perang. Rumah sakit di sini terbatas dan tidak dilengkapi untuk menangani kasus virus corona," kata Dr Shalal.


Mohamed Alshamaa dari
Save The Children, sebuah organisasi nonprofit, sama khawatirnya tentang apa yang mungkin melanda rumah sakit di negara itu - hanya setengahnya beroperasi sebagai imbas dari perang. "Anda dapat melihat ketakutan di wajah, tidak hanya dokter tetapi juga manajemen. Kami memiliki beberapa dokter di satu atau dua rumah sakit yang telah mengirim pasien dengan kondisi pernapasan normal karena khawatir mereka adalah kasus virus corona, karena mereka tidak memiliki peralatan pelindung yang tepat. "

Saat ini Yaman hanya memiliki 209 ventilator, sejumlah 417 ventilator sedang didatangkan dari negara lain. Sementara jumlah ini masih jauh dari ribuan ventilator yang dimiliki atau diproduksi oleh negara-negara maju. []


Bagikan