Ikhtiar Diyah Gantikan Usaha Suami yang Bangkrut

Pandemi Covid-19 masih berlangsung. Usai usaha sang suami gulung tikar, Diyah mencoba membuka usaha dengan memanfaatkan keahliannya. Kini usaha miliknya mencoba bertahan di tengah pandemi.

Diyah Damayanti saat sedang berjualan. (ACTNews).

ACTNews, JAKARTA SELATAN — Pengalaman menjadi karyawan di toko kuliner Jepang membuat Diyah Damayanti (41) terjun ke dalam usaha kuliner bento khas Jepang. Hal ini ia lakukan karena usaha sang suami bangkrut akibat pandemi Covid-19. Bermodalkan Rp500 ribu, Diyah membuka usahanya. 

“Awalnya saya minta tetangga-tetangga nyobain, ternyata responsnya bagus, enak juga. Jadi dengan modal Rp500 ribu saya nekat jualan, gantiin suami yang jualannya bangkrut,” kata ibu dua anak ini, Jumat (26/3/2021). 

Saat ini, Diyah menyewa lapak dan gerobak di dekat rumahnya bilangan Jalan Setu Mangga Bolong, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Para pelanggan Diyah adalah tetangga dan orang yang lewat. Ia ingin berkeliling, namun tak mempunyai modal untuk membuat gerobak. 


Diyah baru membuka usaha pada November 2020 lalu, sejak usaha suaminya tak mampu lagi untuk bertahan. Pangsa pasar dan pendapatannya masih rendah. “Pendapatan tak banyak, apalagi cuma ngandelin tetangga dan orang yang lewat (sebagai pelanggan). Perlu keliling agar pelanggannya banyak, pendapatan juga naik,” kata Diyah. 

Selain itu, usaha Diyah juga harus menghadapi pandemi yang masih berlangsung. Pendapatannya tak lebih dari Rp150 ribu dan digunakan untuk memenuhi biaya sewa gerobak, lapak, dan cicilan motor sebesar Rp900 ribu per bulan. 

Beliau sangat berharap bantuan gerobak kuliner, sehingga bisa membantu meningkatkan pemasukan hingga 50% perekonomian keluarga. “Kalo sudah punya gerobak, nanti mau tambah jenis makanan yang dijual juga,” ujarnya. []