Ikhtiar Janis Buka Wawasan Agama Anak di Sekitar Tempat Tinggalnya

Sebagai ikhtiar untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-harinya, Janis (54) memilih jalur mulia. Ia mengabdikan dirinya sebagai seorang guru mengaji anak-anak dari keluarga prasejahtera di sekitar kontrakannya. Tak ada patokan biaya untuk belajar, Janis mensyukuri berapapun rezeki yang ia terima.

1
Sosok Janis, guru mengaji untuk anak prasejahtera.(ACTNews)

ACTNews, JAKARTA Janis (54) mengetuk pintu rumah tetangganya dengan pelan. Ia tak ingin menggangu jika ketukannya terlalu keras. Kedatangannya tersebut, bermaksud untuk menumpang memasak beras di penanak nasi milik tetangganya. Kehidupan prasejahtera yang telah lama menjerat Janis, membuat Janis bahkan tidak memiliki alat masak seperti penanak nasi. Sehingga ia sering kali menumpang dapur tetangga untuk ikut memasak.

Beruntung, tetangga paham betul kondisi Janis yang memiliki kehidupan sulit. Sehingga, tidak mempermasalahkan Janis menggunakan dapur dan beberapa peralatan masak. "Sudah biasa masak di sini. Rumahnya (Janis) kan enggak ada dapurnya. Jadi kadang masak bareng juga. Orangnya juga baik, sopan, jadi senang aja kita bantunya," kata tetangga Janis.

Tempat tinggal Janis di wilayah Johar Baru, Jakarta Pusat, diketahui hanya merupakan kontrakan satu petak yang memiliki luas sekitar 3x3 meter. Sehingga, wajar tak memiliki ruang yang cukup untuk dijadikan dapur. Dalam kontrakan sempit tersebut, hanya berisi berbagai barang yang kondisinya telah lusuh maupun rusak. 

Di dalam tempat Janis ada barang seperti kulkas satu pintu yang berada tepat di samping pintu kontrakannya. Kulkas tersebut sudah tidak lagi berfungsi. Rencananya, ia akan jual kulkas tersebut untuk biaya pembayaran sewa kontrakan yang mencapai Rp250 ribu per bulan serta membiayai kebutuhan makannya sehari-hari. "Buat makan sehari-hari apa saja yang ada. Kadang ikan asin, tahu, tempe, atau sayur," kata Janis, Rabu (9/6/2021).

Janis tak selalu memiliki uang. Jika begini, Janis hanya mengandalkan pemberian makanan dari tetangganya. "Alhamdulillah kadang tetangga ada saja yang bantu. Kasih nasi sama lauk," katanya.

Sebagai ikhtiar memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, Janis memilih jalur mulia. Ia mengabdikan dirinya sebagai seorang guru mengaji anak-anak yang datang dari keluarga prasejahtera di sekitar kontrakannya. Tak ada patokan biaya untuk belajar, Janis mensyukuri berapapun rezeki yang mampu diberikan muridnya untuk jasa besarnya menyebarkan ajaran agama Allah SWT lewat membaca Al-Qur’an.


Janis saat mengajar anak-anak di sektiar tempat tinggalnya membaca Al-Qur'an.(ACTNews)

Hanya memiliki enam murid, Janis menuturkan, pendapatan bulanannya berkisar Rp500 ribu. Jumlah tersebut menurun drastis imbas pandemi Covid-19, yang mana dulunya ia memiliki total delapan murid. "Mungkin karena orang tuanya enggak punya duit buat ngajiin anaknya, jadinya keluar. Padahal saya enggak masalah soal biaya, karena saya juga paham kondisi saat ini sedang sulit, soal biaya sebenarnya itu bukan persoalan, yang penting anaknya punya ilmu agama yang baik" kata Janis.

Di masa pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai ini, Janis pun berharap datangnya bantuan pangan dari para dermawan. Sebab, bantuan pangan yang dulu kerap ia terima dari pemerintah, sudah berbulan-bulan terhenti.[]