Ikhtiar Kesembuhan untuk Sandi, Santri Yatim yang Tersengat Listrik

Sandi (14) sempat mengalami kecelakaan ketika ia tengah berada di pesantren. Tubuhnya mengalami luka bakar akibat tersengat listrik, hingga tangannya harus diamputasi.

Proses pengobatan dan pemeriksaan kondisi kesehatan Sandi di rumah sakit. (ACTNews)

ACTNews, TASIKMALAYA - Sandi (14) harus kehilangan sebagian dari cita-citanya di masa depan. Pasalnya, remaja yang sudah ditinggal meninggal oleh ayahnya sejak dalam kandungan ini mengalami musibah tersengat listrik saat sedang belajar di pesantren pada September 2020.

Akibat kejadian tersebut, tangan kirinya terpaksa diamputasi karena dikhawatirkan kerusakan tangan tersebut akan membusuk dan menjalar ke bagian lain. Saat itu kondisi Sandi cukup memprihatinkan, jaket yang ia pakai menempel dengan kulit perutnya akibat sengatan listrik tersebut. Sementara itu, dari bagian dada hingga kakinya mengalami luka bakar yang cukup serius.

Sandi diharuskan menjalani rawat inap intensif di rumah sakit. Namun, karena kehabisan bekal dan keterbatasan ekonomi keluarga, ia hanya dirawat selama tiga hari dan langsung pulang. Hal ini disampaikan oleh Elis Mayanti (41), ibu kandung Sandi. “Waktu kejadian terjadi, anak saya sedang belajar di pesantren. Pas lagi bawah tangga dan tersengat listrik, atas swadaya masyarakat dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan tindakan awal sekaligus amputasi tangan. Kemudian sempat dirawat tiga hari di rumah sakit, namun keburu kehabisan bekal, dan langsung dibawa pulang, dirawat dirumah” ungkap Elis, Ahad (27/12).

Meskipun memiliki keterbatasan Fisik, Elis yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci ini sudah terbiasa mencari nafkah sendirian untuk anaknya. Kecelakaan yang menimpa sandi membuat Elis harus semakin giat bekerja. Pasalnya, saat itu anaknya memerlukan pengobatan intensif minimal dirawat dengan perawat medis di rumahnya untuk mengganti perban luka bakar di tubuh sandi setiap harinya.

“Ya saya harus semakin giat dan banyak bekerja karena kan anak saya dirawat oleh suster di rumah untuk buka pasang perban luka bakar yang ga bisa sembarang orang ganti, bayar Rp100 ribu per hari ke susternya. Sedangkan penghasilan saya sehari saja gak nyampe Rp100 ribu, belum untuk makan,” tambah Elis

Meskipun Sandi sudah kehilangan satu tangan kirinya, Elis memiliki harapan besar kepada anak satu-satunya tersebut. “Meskipun anak saya begini sekarang, saya masih menyimpan harapan besar. Anak saya nanti bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi, punya semangat belajar yang besar dan menjadi orang dengan ilmu pengetahuan yang banyak,” tambah Elis sambil menahan air matanya.  

ACT Tasikmalaya pun telah mendampingi pengobatan Sandi sejak November lalu. Sudah lebih 7 kali sandi didampingi untuk pemulihannya hingga kini. Hal ini disampaikan oleh M. Fauzi Ridwan dari Tim Program ACT Tasikmalaya. “Alhamdulillah dari awal pendampingannya sudah berjalan. Terakhir pendampingan pengobatannya kemarin di tanggal 26 Desember 2020, sudah ada sekitar 7-8 kali pendampingan. Dan alhamdulillah sekarang lukanya mengering. Sandi sudah memakai baju dan bisa berjalan sendiri, alhamdulillah” ungkap Fauzi, Senin (28/12). []