Ikhtiar Memastikan Ketersediaan Pangan Pengungsi Palestina di Lebanon

Paket pangan dari para dermawan diterima ratusan pengungsi Palestina di Kamp Burj Al-Brajneh, Lebanon. Para pengungsi merupakan warga Palestina korban peristiwa Nakba, peristiwa di mana mereka diusir dari tanah air sendiri.

act bantu palestina
Pengungsi Palestina di Lebanon menerima bantuan paket pangan dari tim ACT. (ACTNews)

ACTNews, BEIRUT – Bantuan paket pangan dari Sahabat Dermawan diantarkan tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk pengungsi Palestina di Lebanon. Paket berisi berbagai kebutuhan pangan pokok tersebut, didistribusikan pada Mei ini di kamp pengungsian Burj Al-Brajneh yang terletak di pinggiran selatan Kota Beirut.

Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Network ACT menjelaskan, sedikitnya 425 pengungsi menjadi penerima manfaat bantuan ini. Mereka adalah pengungsi yang telah bertahun-tahun tinggal di kamp tersebut, dan menderita berbagai krisis kemanusiaan.

"Tercatat jumlah pengungsi Palestina di Lebanon sudah sangat banyak dan terdiri dari berbagai kelompok umur, dari anak-anak, pemuda, dan orang tua. Banyaknya jumlah pengungsi berbanding lurus dengan banyaknya penderitaan yang mereka alami sampai saat ini. Minimnya ketersediaan bahan pangan, air bersih, tempat tinggal yang layak merupakan keseharian yang harus mereka lalui," ujar Said, Kamis (19/5/2022).

Lewat bantuan dari Indonesia ini, Said berharap, para pengungsi tak lagi khawatir bagaimana mereka memenuhi kebutuhan pangannya. Sebab, paket pangan yang telah diberikan ini mampu memenuhi kebutuhan pangan mereka setidaknya dua bulan ke depan.

Untuk diketahui, Kamp Burj Al-Brajneh didirikan pada tahun 1948 setelah 'Nakba', di mana ribuan warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah dan desa mereka setelah diusir oleh pasukan zionis. Dalam peristiwa tersebut, sebagian besar warga Palestina mengungsi ke Gaza, sementara yang lainnya ke negara-negara tetangga, termasuk Lebanon.

Kamp Burj Al-Brajneh dibangun di atas tanah seluas satu kilometer persegi dan menampung sekitar 31.000 pengungsi. Bukan hanya pengungsi Palestina, kamp tersebut juga merupakan rumah bagi pengungsi Suriah yang melarikan diri dari konflik di negaranya.

Penghuni kamp yang penuh sesak ini, menghadapi banyak tantangan, mulai dari kurangnya infrastruktur yang layak, kesempatan kerja yang terbatas, hingga fasilitas kesehatan dan lembaga pendidikan yang kekurangan dana. []