Ikhtiar Membantu Keluarga Palestina Terus Dilakukan

Soliman Sead tidak bisa menjalani perawatan lebih lanjut. Keluarga Soliman Sead termasuk kelompok prasejahtera di Gaza. Mereka bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, utamanya pangan.

Keluarga Soliman Sead
Mohammed Soliman Sead (tengah) bersama keluarga. (ACTNews)

ACTNews, GAZA Mohammed Soliman Sead, seorang kepala keluarga berusia di pertengahan 20-an, harus melanjutkan hidup dengan kondisi cacat fisik akibat terluka saat konflik melanda wilayah Jalur Gaza pada tahun 2018 lalu. Ia mengalami luka tembak di bagian paha kiri dan patah tulang. 

Soliman Sead tidak bisa menjalani perawatan lebih lanjut. Keluarga Soliman Sead termasuk kelompok prasejahtera di Gaza. Mereka bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok  sehari-hari, utamanya pangan.

“Keluarga Soliman Sead turut terdampak krisis multidimensional, mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan, terlebih obat-obatan, air, listrik, transportasi tidak bisa mereka penuhi karena krisis multidimensional,” ujar Said Mukaffiy dari tim Global Humanity Response Aksi Cepat Tanggap.

Said menjelaskan, sejauh ini Aksi Cepat Tanggap telah menginisiasi program Sister Family Palestine-Indonesia untuk menjembatani keluarga Palestina yang membutuhkan dengan donatur Indonesia. Ia pun berharap dukungan untuk keluarga Soliman Sead juga bisa hadir dari keluarga Indonesia melalui program ini.

“Sejak diluncurkan pada Februari hingga April, sudah ada 140 keluarga yang menerima bantuan biaya hidup dengan program ini. Ikhtiar untuk membangun kehidupan keluarga Palestina terus kita lakukan,” ujar Said.

Said menjelaskan, bantuan biaya hidup yang diberikan bisa dimanfaatkan keluarga Gaza sesuai dengan prioritas kebutuhan masing-masing karena setiap keluarga memiliki beban hidup yang berbeda. Beberapa diantaranya merupakan janda yang membutuhkan biaya untuk pendidikan anak, anggota keluarga yang sakit, membayar utang atau sewa rumah.[]