Ikhtiar Membantu Pengungsi Rohingya Tidak Pernah Surut

Aksi Cepat Tanggap, sebagai salah satu lembaga kemanusiaan yang mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia mengirimkan paket pangan dan berbagai bantuan strategis lainnya. Bantuan pangan ACT antara lain hidangan iftar dan sahur selama sebulan penuh. Kampanye juga digalakkan ACT untuk mengirimkan paket lebaran dan alat ibadah.

bantuan pangan rohingya
Pengungsi anak Rohingya menerima bantuan pangan. (ACTNews)

ACTNews, COX’S BAZAR – Warga Rohingya mengungsi untuk meninggalkan segala memori suram masa lalu di Myanmar. Mereka berharap bisa hidup dengan tenang. Namun, ikhtiar mendapatkan kedamaian di tempat baru tidak berjalan lancar begitu saja.

Tiga bulan pertama di tahun 2021, kamp pengungsian Rohingya di Cox’s Bazar telah mengalami kebakaran sebanyak dua kali. Pertama, kebakaran pada 14 Januari 2021 yang menghancurkan kurang lebih 550 tempat penampungan bagi 3.500 warga, 150 toko, dan satu fasilitas umum milik organisasi non-profit di sekitar pemukiman. Kebakaran kedua pada 22 Maret 2021 yang menghanguskan ribuan rumah dan membuat 47.000 jiwa kehilangan hunian. Akibat kejadian itu, 15 orang meninggal dunia.

Jelang beberapa waktu setelah kebakaran, berbagai program dari  berbagai organisasi kemanusiaan, diterjunkan ke lokasi pengungsian. Seperti bantuan relokasi, dukungan psikologi dan kesehatan mental, imunisasi untuk anak-anak, bantuan pangan, dan berbagai kebutuhan lainnya.  

Aksi Cepat Tanggap, sebagai salah satu lembaga kemanusiaan yang mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia mengirimkan paket pangan dan berbagai bantuan strategis lainnya. Bantuan pangan ACT antara lain hidangan iftar dan sahur selama sebulan penuh. Kampanye juga digalakkan ACT untuk mengirimkan paket lebaran dan alat ibadah.

“Kampanye ini masih terus kita gulirkan agar semakin banyak warga Indonesia yang turut mendampingi pengungsi Rohingya,” ujar Firdaus Guritno dari tim Global Humanity Response ACT.

Firdaus menambahkan, dari bantuan pangan saja, masyarakat Indonesia turut membantu meringankan beban pengungsi Rohingya dalam menjalani bulan Ramadan, apalagi jika bantuan kemanusiaan bisa hadir lebih kompleks dan masif untuk mereka. “Semoga ikhtiar kita membersamai pengungsi Rohingya tidak akan pernah surut,” harap Firdaus.[]