Ikhtiar Membebaskan Pasien Gangguan Jiwa dari Ancaman Kelaparan

Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak pada kondisi masyarakat umum saja, tapi juga pasien gangguan jiwa yang tinggal di Yayasan Galuh, Kota Bekasi. Saat ini mereka terancaman kelaparan karena kondisi ekonomi keluarga pasien yang menurun.

Ikhtiar Membebaskan Pasien Gangguan Jiwa dari Ancaman Kelaparan' photo
Seorang pasien di panti rehabilitasi gangguan jiwa, Yayasan Galuh, Rawa Lumbu, Kota Bekasi sedang berjalan melintas. Di dalam panti tersebut, dihuni 400 lebih pasien yang masih menjalani rehabilitasi. (ACTNews)

ACTNews, BEKASIJajat Sudrajat (42) tidak bisa menahan curahan hatinya ketika tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Bekasi menyambangi panti rehabilitasi untuk orang gangguan jiwa, Yayasan Galuh, di Rawa Lumbu, Kota Bekasi. Jajat berkisah, semenjak pandemi Covid-19, sontak sebagai Kepala Perawat, ia pun memberlakukan karantina lingkungan dengan membatasi akses keluar-masuk siapa pun, termasuk kunjungan keluarga pasien atau orang yang ingin memberikan bantuan kepada pasien.

Hal ini pun dinilai Jajat cukup berdampak terhadap ketersediaan bahan pangan pasien di Yayasan Galuh selama sembilan bulan ke belakang. Pasalnya, hingga saat ini perbekalan pasien untuk makan tiga kali sehari hanya mengandalkan donasi yang didapat dari para dermawan.

“Memang agak berat ya, tapi ya mau gimana lagi karena keadaannya lagi begini (pandemi). Kami bersyukur saja karena alhamdulillah ada saja yang masih peduli, mereka bawa beras, mi instan ke sini,” ujar Jajat.

Jajat mengungkapkan, hingga saat ini, yayasan yang sudah didirkan 20 tahun lebih itu tidak memiliki donatur tetap. Total pengurus yang terlibat, termasuk perawat, berjumlah 60 orang. Saban hari, mereka berjibaku mengurus 420 pasien gangguan jiwa dan mental yang menghuni panti.

Kami bersyukur masih ada yang ngasih, karena emang keadaannya begini, dari keluarga pasien juga lagi kurang baik keadaan ekonominya, kami juga mengerti di sini karena kan keadaan. Kami putar otak, yang penting pasien makan dulu,” ungkap Jajat.

Kadang kala, Jajat melanjutkan, bantuan-bantuan pangan yang didapat untuk lauk pauk ia olah dan kelola dengan baik agar bisa mencukupi kebutuhan semua penghuni yayasan. “Yang penting ada beras. Kalau ayam sama telor, itu dipisah. Siang telor, sorenya ayam, kalau ada tambahan paling sayuran. Malah enggak jarang juga ya sayur aja, atau tempe saja sama nasi, yang penting bisa makan,” tuturnya.

Jajat dan pihak yayasan pun memahami kondisi yang ada saat ini dihadapi keluarga pasien. Menurutnya, semua pihak harus bergandeng tangan untuk menguatkan. Sebab, siapapun hampir semuanya turut merasakan dampak pandemi yang ada.

Pertamuan ACT dengan Jajat ini terjadi pada Jumat (27/11) saat tim ACT berkunjung ke Yayasan Galuh untuk memberikan paket makanan siap santap. Hidangan ini merupakan kolaborasi ACT dengan Laznas BSM yang menghadirkan layanan Warteg Mobile agar lebih mudah menjangkau penerima manfaat.

“Alhamdulillah terima kasih, saya bersyukur masih ada yang peduli sama pasien-pasien di sini, semoga berkah selalu,” harap Jajat.

Sementara itu, Ihsan Hafizhan  dari Tim Program ACT Bekasi mengatakan, para pasien di Yayasan Galuh menjadi salah satu kalangan yang harus dibantu di masa saat ini. Pasalnya, mereka pun tidak luput dari ancaman kelaparan apabila ketahanan pangan tidak terjaga.

ACT terus membuka kesempatan semua pihak untuk bisa terlibat langsung dalam aksi kebaikan ini. Sedekah terbaik bisa disalurkan melalui laman Indonesia Dermawan,” ajak Ihsan.[]

Bagikan

Terpopuler