Ikhtiar Milna dan Keluarga Melewati Masa Pandemi

Sejak pandemi, suami Milna, pengajar di Pesantren Al Fajar, Kapas, Bojonegoro harus dirumahkan hingga waktu yang belum ditentukan. Guru honorer ini hanya bisa berdoa dan berikhtiar terbaik untuk bisa terus melanjutkan kehidupan di tengah terpaan pandemi yang berpengaruh pada ekonomi.

Pertemuan tim ACT dengan guru di Pesantren Al Fajar, Kapas, Bojonegoro untuk memberikan bantuan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia. (ACTNews)

ACTNews, BOJONEGORO Milna Himawati (32), salah satu ustazah yang masih tergolong baru mengajar di Pondok Al Fajar, Desa Kapas, Bojonegoro dibanding dengan pengajar lainnya. Ia baru dua setengah tahun menjadi tenaga pengajar di pesantren ini. Walau terhitung baru, ia merasa bahagia bisa mengajar anak-anak muridnya.

Milna merupakan ibu dari dua orang anak. Anak terakhirnya pun masih usia balita. Untuk itu, kebutuhan ekonominya masih sangat tinggi karena perlu membesarkan anak-anaknya. Sayang, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia turut berpengaruh pada kondisi ekonomi keluarganya. Kini, sang suami yang bekerja di salah satu perusahaan swasta terpaksa dirumahkan hingga waktu yang belum ditentukan. Suaminya tengah berikhtiar mencari pekerjaan baru, namun belum menemui hasilnya.

“Perusahaan tempat suami saya bekerja kondisi keuangannya ikut terdampak pandemi, jadi terpaksa merumahkan para karyawannya, termasuk suami saya,” tutur Milna pada awal November ini kepada tim Global Zakat-ACT Jawa Timur.

Saat ini, pendapatan dari Milna mengajar di pesantren merupakan satu-satunya pemasukan bagi keluarganya. Ia dan suami ingin memulai usaha dengan berjualan makanan ringan dengan target pembeli anak-anak yang bersekolah di depan rumahnya. Namun, kegiatan di sekolah yang hingga kini ditiadakan membuat usaha ini urung dilakukan Milna. Doa dan harapan agar pandemi segera usai dan ekonomi kembali normal menjadi harapan Mildan dan keluarganya, hal tersebut karena kebutuhan keluarganya yang masih tinggi, khususnya anak yang masih usia balita.

“Kalau sudah mendesak, kadang saya minta bantuan sama orang tua,” ungkap Milna.

Global Zakat-ACT awal November ini memberikan bantuan biaya hidup bagi Milna dari program Sahabat Guru Indonesia. Selain Milna, ada 4 pengajar lain di Pesantren Al Fajar, Desa Kapas yang mendapatkan biaya hidup serupa. Harapannya, bantuan ini bisa meringankan beban ekonomi mereka di masa pandemi.

Dipo Hadi dari Tim Program Global Zakat-ACT Jatim mengatakan, guru di Pesantren Al Fajar merupakan bagian kecil dari banyaknya guru yang telah mendapatkan biaya hidup dari Sahabat Guru Indonesia. Hingga awal November ini, lebih dari 4.600 guru di 133 kota/kabupaten yang mendapakam biaya hidup ini. Jumlah ini baru sementara, karena akan terus bertambah seiring dengan banyaknya implementasi yang bakal dilakukan.

“Walau telah mencapai lebih dari 4 ribu guru yang mendapatkan biaya hidup, jumlah ini belum  menjangkau seluruh guru prasejahtera di Indonesia. Pasalnya, di negeri kita ini sangat banyak guru prasejhatera dan membutuhkan uluran tangan serta apresiasi dari kita atas perjuangan mereka selama ini,” jelas Dipo, Kamis (5/10).[]