Ikhtiar Pengungsi Suriah Bertahan Pascaledakan Beirut

Pengungsi menjadi salah stau pihak yang paling menderita usai ledakan mengguncang ibu kota Lebanon, Beirut. Tak luput, mereka pun mengalami luka dan kehilangan tempat tinggal.

Ikhtiar Pengungsi Suriah Bertahan Pascaledakan Beirut' photo
Ilustrasi. Pengungsi anak Suriah menerima bantuan pangan berupa khobz. (ACTNews)

ACTNews, BEIRUT – "Atap rumah kami seketika roboh sebelum kami sempat keluar dari rumah,” cerita Dima Steif (16), salah satu pengungsi Suriah yang tinggal di Karantina, salah satu wilayah termiskin di dekat Pelabuhan Beirut.

Al Jazeera menceritakan kisah Dima. Pascaledakan, kehidupan Dima tidak lagi sama. Ledakan 4 Agustus lalu merenggut ibu dan dua saudara perempuannya. Kakak tertuanya mengalami luka serius, dan ayahnya tidak ada di rumah saat ledakan terjadi. Dima sendiri pun masih trauma secara psikologis.

Keluarga Dima datang ke Lebanon pada 2014. Mereka menyelamatkan diri dari perang saudara di tanah air mereka: Suriah. Saat ini Dima dan ayahnya sementara waktu mengungsi di sebuah hotel di bawah naungan sebuah lembaga kemanusiaan, sementara kakak tertuanya masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Beirut.


Pengungsi Suriah di Beeka turut menerima bantuan paket pangan. (ACTNews)

Kepedihan juga dirasakan Fatima Abumaghara (35). Perempuan asal Aleppo itu bercerita kepada Al Jazeera, ledakan mengerikan yang menhancurkan Pelabuhan Beirut tidak pernah mereka temui di kampung halaman mereka – yang juga hancur karena perang sipil. “Dulu, saat pindah ke Lebanon, kami berharap bisa menghadapi hari yang lebih baik, tetapi kami harus menghadapi ini (ledakan) di sini,” cerita Fatima.

Suami Fatima turut menjadi korban jiwa pada ledakan nahas 4 Agustus lalu. Ia kini harus mengasuh kedua balitanya seorang diri. “Hidup di Lebanon semakin menyulitkan dari hari ke hari,” kata Fatima. Ia dan keluarganya pindah dari Aleppo pada 2013.

Luka juga masih dirasakan Makhoul. Ledakan terasa menyayat saat ia mengetahui Sama, putrinya yang masih balita, harus kehilangan mata kirinya. “Saat ledakan terjadi, kami masih belum menyadari sepenuhnya, ‘apakah ini mimpi atau kenyataan’. Kami rasa, ini adalah mimpi buruk,” jelas Makhoul kepada UNHCR. Ia dan keluarganya tinggal dalam radius 700 meter dari ledakan.

Kedutaan Besar Suriah menyatakan pada 8 Agustus lalu, 43 pengungsi Suriah meninggal dunia saat 3.000 ton ammonium nitrat meledak di Pelabuhan Beirut. Sementara Badan PBB untuk pengungsi, UNHCR, melaporkan 89 pengungsi Suriah meninggal dunia.

Merespons ledakan Beirut lalu, Aksi Cepat Tanggap juga telah mengirimkan bantuan pangan dan medis total 10 ton. Bantuan dibagikan secara berkala untuk korban ledakan di Beirut dan para pengungsi, termasuk pengungsi Suriah di wilayah Bekaa.[]


Bagikan