Ikhtiar Penuhi Kebutuhan Hidup Guru di Masa Pandemi

Masa pandemi ini, profesi guru tak terkecuali ikut terdampak pandemi. Gaji pahlawan tanpa tanda jasa, khususnya honorer ikut berkurang seiring dengan berkurangnya waktu mengajar karena berbagai keterbatasan.

Ikhtiar Penuhi Kebutuhan Hidup Guru di Masa Pandemi' photo
Guru di Banjarmasin saat menerima bantuan biaya hidup dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, BANJARMASIN Program Sahabat Guru Indonesia dari Global Zakat-ACT hingga kini, di tengah masa pandemi, terus melanjutkan aksi kebaikannya. Bantuan biaya hidup yang bersumber dari dana zakat ini menargetkan guru honorer dan prasejahtera sebagai penerima manfaatnya. Implementasinya pun tak hanya di wilayah perkotaan saja, tapi juga hingga berbagai penjuru Nusantara.

Selasa (27/10) lalu, tim Global Zakat-ACT menyerahkan biaya hidup bagi Ali Wardhana, guru honorer di SDN Basirih 3, Banjarmasin, Muhammad Yamani pengajar di MI Swasta Arrahmatul Abadiyyah serta Zainab dan Noor Rasidah, guru MI Rahmatillah. Mereka semua merupakan guru yang selama pandemi ini penghasilannya berkurang karena waktu mengajar mereka berkurang drastis.

“Berkurangnya gaji ini karena guru honorer akan mendapatkan gaji per waktu yang dialokasikan untuk mengajar,” jelas Zainal Arifin, Kepala Cabang Global Zakat-ACT Kalsel.

Guru-guru yang mendapatkan biaya hidup dari program Sahabat Guru Indonesia ini telah bertahun-tahun mengabdikan diri sebagai guru. Bahkan, Ali telah 13 tahun sebagai guru honorer dengan gaji yang cukup rendah. “Alhamdulillah, dengan adanya bantuan dari Global Zakat-ACT Kalsel ini terhadap guru honorer di Kota Banjarmasin, bisa membantu urusan keuangan keluarga,” ungkap Ali.

Tugas dan tanggung jawab guru honorer sendiri pada dasarnya tak jauh berbeda dengan guru yang sudah menjadi pegawai. Bahkan, dalam beberapa kasus tugas mereka lebih besar. Dengan gaji rendah, banyak guru honorer yang tetap bertahan. Cinta dengan dunia pendidikan dan cita-cita meningkatkan kapasitas anak didik menjadi alasannya. Hal ini lah yang kemudian membuat guru-guru honorer bergaji rendah harus menjalani pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Riski Andriani, Koordinator Program Sahabat Guru Indonesia, mengatakan, dalam perjalanannya hampir satu tahun ini, program tersebut telah memberikan bantuan biaya hidup ke guru-guru dengan berbagai kondisi. Selain prasejahtera, ternyata banyak juga guru dengan keterbatasan fisik yang tetap mengajar karena dedikasinya yang sangat tinggi pada pendidikan. “Dari program Sahabat Guru Indonesia, kami menemukan fakta bahwa tak sedikit ekonomi pahlawan tanpa tanda jasa ini yang masih prasejahtera. Perjuangan mereka pun tak setengah-setengah, bahkan ada yang rela tidak dibayar demi hadirnya pendidikan di berbagai pelosok negeri,” ungkap Riski, Jumat (30/10).

Pemberian bantuan biaya hidup untuk guru ini tak lepas dari peran muzaki yang berzakat melalui Global Zakat-ACT. Di masa pandemi sekarang ini pun Global Zakat terus membuka penyaluran zakat untuk guru, bahkan berharap masyarakat bisa memberikan sedekah terbaiknya. Hal tersebut karena di masa sulit akibat pandemi, guru juga menjadi pihak yang ikut terdampak.

“Bagi yang ingin berzakat untuk program guru ini, muzaki bisa mendatangi kantor cabang ACT terdekat atau bersedekah melalui laman Indonesia Dermawan,” ajak Riski.[]

Bagikan

Terpopuler