Ikhtiar Pulihkan Denyut Ekonomi UMKM Pascagempa Sulbar

Ekonomi UMKM, khususnya pangan di Sulawesi Barat belum sepenuhnya pulih. Masih banyak warung kecil yang ditinggalkan pemiliknya karena menjadi penyintas atau kekurangan modal pascagempa. Untuk itu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menghadirkan Operasi Makan Gratis sebagai bentuk pemberdayaan warung makan kecil dan memberikan manfaat bagi penyintas melalui makanan gratis.

Samsia sedang menunjukkan hidangan siap santap olahannya untuk dibagikan ke warga terdampak gempa di sekitar warungnya di Desa Rangas, Simboro, Kabupaten Mamuju. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, MAMUJU Dibantu dua orang anggota keluarga, Samsia (50), seorang pedagang makanan siap santap di daerah Desa Rangas, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju tengah sibuk di dapur warung sederhananya, Kamis (28/1/2021). Uap dari nasi yang baru saja matang menyeruak, begitu juga aroma lauk yang akan menjadi teman makan nasi. Dari dapur kecil tersebut, per Kamis hingga beberapa waktu ke depan akan ada 100 porsi makanan siap santap gratis setiap harinya untuk warga di sekitar warung yang juga korban terdampak gempa Sulawesi Barat.

Tangannya cekatan mengemas nasi beserta lauk ke dalam kemasan styrofoam. Makanan yang telah rapi terkemas segera ia susun di meja saji warungnya. Siapa pun yang datang dipersilakan untuk mengambil tanpa perlu membayar. Semua makanan yang dihidangkan Samsia adalah gratis karena sudah dibayar oleh dermawan yang menyalurkan sedekah terbaik melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk penanganan becana di Sulawesi Barat.

“Ini nanti sebagian mau saya antar ke pengungsian tempat saya pernah mengungsi juga. Selebihnya boleh siapa saja yang makan, banyak pekerja bangunan di sekitar sini yang meratakan gedung sekolah yang rusak karena gempa,” ungkap Samsia yang juga merupakan seorang penyintas gempa. Namun, sudah empat hari terakhir ia kembali membuka warung sederhanya untuk kembali mencari rezeki karena kondisi di Mamuju perlahan kondusif.

Menyajikan hidangan siap santap bagi Samsia merupakan hal yang biasa. Pasalnya, sehari-sehari sejak sebelum gempa melanda, ia merupakan pedagang makanan di warung sederhana yang ia sewa seharga Rp250 ribu per bulan tak jauh dari Kantor Gubernur Sulbar. Warung tersebut baru 8 bulan Samsia sewa, sebelumnya, ia berkeliling menjajakan olahan makanan dengan membawa gerobak. Tidak ada pendapatan besar yang Samsia kantongi dalam sehari. Bisa menabung Rp10 ribu per hari untuk bayar sewa bulanan warung dan bisa ikut menikmati olahan jualannya saja Samsia sudah sangat bersyukur.

Warung yang Samsia buka merupakan salah satu sumber penghasilan keluarga. Jualan sederhana ini menjadi salah satu caranya membantu sang suami yang merupakan seorang nelayan dengan pendapatan tidak tetap. Apalagi, Samsia dan suami harus menghidupi delapan anak yang enam di antaranya belum memiliki penghasilan, sedangkan dua orang di antaranya telah bekerja namun terhenti sejak gempa melanda.

Pemberdayaan

Setelah lebih dari sepekan bertahan di pengungsian, kini, empat hari terakhir, Samsia kembali membuka warungnya. Pembelinya belum banyak, hanya hitungan jari saja dalam sehari. Begitu juga dengan jualannya, tidak beragam karena kendala modal. Hal ini lah yang kemudian menjadi masalah baru bagi Samsia untuk memulai kembali usahanya setelah bencana.

Akan tetapi, sepinya pembeli dan terbatasnya modal kini seakan tak lagi jadi masalah setelah warung makan milik Samsia menjadi salah satu warung yang diberdayakan ACT melalui program Operasi Makan Gratis mulai Kamis (28/1/2021). Seratus porsi setiap hari yang Samsia hidangkan tak perlu bingung mencari pembeli, ia hanya bertugas untuk memasak dan membagikannya secara gratis ke siapapun.

“Program Operasi Makan Gratis ini jadi ikhtiar ACT didukung oleh seluruh dermawan untuk menghidupkan kembali denyut perekonomian UMKM pascagempa,” jelas Intishor Jundi dari tim Program ACT.[]