Ikhtiar Selaras ACT dan Muhammadiyah Memajukan Pendidikan

Bantuan dua ruang kelas dari Aksi Cepat Tanggap dianggap selaras dengan visi Muhammadiyah dalam menyediakan pendidikan formal dan keagaamaan bagi generasi bangsa.

Siswa MTs Muhammadiyah Monggol, Kecamatan Saptosari, Gunung Kidul menujukkan salah satu ruang kelas rusak, Senin (16/3). Sekolah yang dibangun sejak 1984 itu kekurangan ruang kelas untuk menampung 110 siswanya.

ACTNews, GUNUNG KIDUL – Bukan sekedar membuka sekolah formal, MTs Muhammadiyah Monggol merasa turut bertanggung jawab dalam membentuk penerus bangsa yang memiliki pengetahuan dan ilmu agama. Hal ini disampaikan Marjianto selaku Kepala Sekolah Mts Muhammadiyah Monggol, Senin (16/3). Sebab itu, sekolah menengah pertama yang didirikan tahun 1984 itu membebaskan biaya pendidikan para siswanya.

Selain semangat berdakwah, bebas biaya bagi siswa diterapkan sekolah karena sebagian besar siswa berasal dari kalangan prasejahtera. Menurut Marjianto, semangat menyediakan pendidikan yang dapat diakses berbagai kalangan lebih penting. “Hal ini dilakukan sebagai bentuk menuruskan semangat juang Kiai Haji Ahmad Dahlan untuk memberikan akses pendidikan kepada anak-anak yang kurang mampu,” kata kepala sekolah yang telah mengabdi sebagai guru sejak 2015 itu.

MTs Muhammadiyah Monggol yang berdiri di atas tanah desa itu awalnya hanya memiliki tiga ruang kelas. Sekolah itu didirikan atas prakarsa Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Kecamatan Paliyan, kecamatan awal Sapto Sari sebelum pemekaran.

Sekolah yang mendidik 110 siswa itu kini punya lima ruangan yang dimanfaatkan untuk ruang kelas. Satu ruang untuk kelas IX dengan jumlah 24 siswa, dua ruang untuk kelas VII dengan 52 siswa, dan satu ruang yang dibagi dengan ruang perpustakaan digunakan kelas VII dengan 34 siswa.


Siswa MTs Muhammadiyah Monggol menunjukkan ruang kelas baru yang dibangun atas kolaborasi kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap dan British Propolis. (ACTNews/Gina Mardani)

Awal Februari, Aksi Cepat Tanggap bersama Muslimah Millionaire dan British Propolis merampungkan dua ruang kelas tambahan untuk MTs Muhammadiyah Monggol. Ruang kelas tersebut menjadi bangunan pertama yang dibangun di atas tanah sekolah seluas 850 meter persegi itu. Menurut Marjianto, adanya bantuan dua ruang kelas baru dari Aksi Cepat Tanggap menjadi bentuk dukungan besar bagi MTs Muhammadiyah Monggol dalam menjalankan amanah Muhammadiyah.

 “(Bantuan ruang kelas) selaras dengan visi Muhammadiyah dalam menyediakan pendidikan. Dan untuk Muslimah Millionaire dan British Propolis kami sangat berterima kasih atas bantuannya. Ini sangat membantu kami dalam mengembangkan madrasah,” ungkap Marjianto. MTs Muhammadiyah Monggol pun terus berikhtiar berdikari dalam memberikan pelayanan terbaik bagi para siswa.

Ruang kelas baru itu pun telah digunakan secara bergantian oleh siswa kelas VII, VIII, dan IX. Strategi penggunaan bergilir dilakukan sekolah salah satunya untuk menjaga semangat belajar para siswa. Lebih lanjut, Marjianto mengatakan, tidak dipungkiri hadirnya dua ruang kelas baru memicu keingan belajar para siswa karena ada suasana baru dan kondisi ruang kelas yang lebih nyaman. Rencananya, dua ruang kelas baru itu akan digunakan untuk tempat belajar siswa kelas VII awal tahun pembelajaran mendatang. “Harapan terbesar kami anak-anak dan masyarakat desa paham agama. Tujuan kami menanamkan nilai-nilai keagamaan sekuat-kuatnya,” tegas Marjianto.

Sementara itu, Kepala Cabang ACT Daerah Istimewa Yogyakarta Bagus Suryanto menerangkan, pembangunan dua ruang kelas MTs Muhammadiyah Monggol merupakan proyek pertama sekolah tepian negeri. “Kami berharap, akan ada donatur-donatur lainnya yang turut membantu membangun sekolah-sekolah tepian negeri lainnya,” kata Bagus.

Melalui program Sekolah Tepian Negeri, Bagus mengajak masyarakat untuk mengembangkan pendidikan Indonesia, salah satunya dengan menyediakan fasilitas sekolah secara baik.

Hadirnya dua ruang kelas baru amat disyukuri Nabila Nurhafizah dan Desti, siswa kelas VIII Mts Muhammadiyah Monggol. Mereka mengaku, dua ruang kelas baru amat nyaman digunakan. “Temboknya masih bersih mbak, kursinya juga masih bagus,” celoteh Desti yang juga ketua kelas VIII A.

Senada dengan Desti, Nabila berharap adanya ruang kelas baru ini menambah semangat teman-temannya dalam belajar juga siswa baru nanti. “Semoga makin banyak siswa yang nanti tertarik,” harap Nabila.[]