Ikhtiar Sukadi Menafkahi Keluarga dari Tani

Keuntungan sawah Sukadi (56) hanya cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Ia bahkan harus berutang untuk menutupi modal awal.

Sukadi petani asal Desa Semanding, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. (ACTNews)

ACTNews, PONOROGO – Sejak umur 12 tahun, Sukadi (56) sudah menggeluti pekerjaan sebagai seorang petani. Saat itu, ia terbiasa menemani ayahnya di sawah. Sampai berkeluarga pun, Sukadi masih menggantungkan diri dari tani.

Saat ini penghidupan Sukadi berada di atas lahan orang tuanya seluas 2,5 kotak atau 3.500 meter persegi. Namun, menurut Sukadi, hasil tani belum juga mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari apalagi untuk pendidikan anak. Bernasib hampir sama dengan sang ayah, anak Sukardi harus menghentikan pendidikan di tingkat SMP sebab kendala ekonomi.

“Penghasilan petani tidak selalu pasti. Tidak setiap bulan didapat. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan mendadak, saya memburuh ke petani lain dan ternak sapi juga,” tutur warga Desa Semanding, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo itu.

Terkadang, Sukadi harus meminjam modal awal tanam di Pegadaian. Untung sebesar Rp 5 juta dari hasil sawah hanya habis untuk membayar cicilan. Sampai sekarang, Sukadi utang Sukadi pun belum sepenuhnya lunas. Ia bahkan tambal sulam membayar utang dengan menjual ternak. “Masalahnya, harga ternak kini ikut rendah akibat Covid-19,” ungkapnya.

Untuk membantu ikhtiar Sukadi, Global Wakaf – ACT pun memberikan bantuan modal bertani dari program Wakaf Sawah Produktif pada pertengahan Februari silam. Dengan bantuan modal tanam dan pendampingan ini, Global Wakaf-ACT berharap, Sukadi bisa lebih memaksimalkan sawah garapannya.

Wakaf Sawah Produktif juga saat ini menjadi salah satu penggerak dari Gerakan Sedekah Pangan Nasional, yang bertujuan membentuk kedaulatan pangan negeri. Wakaf Sawah Produktif adalah hulu dari gerakan ini. Sehingga, selain memberdayakan petani sebagai produsen pangan, hasilnya juga dapat bermanfaat bagi yang membutuhkan.[]