Ikhtiar Warga Cibarusah Hadapi Kekeringan Panjang

Untuk menghadapi musim kering ini, bahkan warga mesti mengambil air dari serapan pasir sungai yang telah kering. Alternatif lainnya, mereka menunggu bantuan air bersih.

Ikhtiar Warga Cibarusah Hadapi Kekeringan Panjang' photo

ACTNews, BEKASI - Penampungan air di depan rumah Karsih (45) katanya bisa sampai meluap di musim hujan. Terkadang untuk mandi, ia bahkan menceburkan diri dan berenang saja di dalam penampungan air itu. Tetapi, kondisi melimpahnya air tak lagi Karsih rasakan selama empat bulan belakangan. Galian tanah dengan kedalaman sekitar dua meter itu hampir kering sama sekali. Bahkan, rumput-rumput liar ikut tumbuh di dalamnya.

Kata Karsih, walaupun tidak ada air di penampungan, mereka masih bisa mendapatkannya di sungai. Namun, bukan mengambil air dari aliran sungai seperti yang dibayangkan karena sungai tersebut juga kering sama sekali. Cara mendapatkan airnya, Karsih mengeruk pasir Sungai Cihoe dan memasukkannya ke dalam ember yang telah dibolongi bagian bawahnya, sehingga sisa-sisa air tersebut menetes dari bawah.

“Sekali ambil air dari serapan itu, bisa dapat dua jeriken. Airnya bisa dipakai buat minum, buat mencuci, buat mandi juga. Airnya bersih, jadi saya ambil saja selama masih bisa mengambil di sana. Kalau beli kan mesti ada uang,” jelas Karsih pada Kamis (22/8) lalu. Sementara katanya, suaminya bekerja serabutan sehingga ia enggan membeli air.


Kesulitan akan air ini tidak hanya dialami Karsih seorang. Hampir seluruh warga Desa Ridogalih di Kecamatan Cibarusah juga mengalaminya. Penampungan air depan rumah mereka sudah kering. Kalaupun ada, airnya hanya di dasar dan warnanya sudah kehijauan. Mereka juga kerap mengambil air dari pasir sungai saking tidak adanya air.

Selain itu, warga juga kerap menunggu bantuan air. Misalnya saja, bantuan air bersih yang hari itu diamanahkan oleh para dermawan melalui Cepat Tanggap (ACT). Sekira 104.000 liter air didistribusikan di Kecamatan Cibarusah melalui 13 armada tangki air.

“Alhamdulillah senang rasanya, terima kasih sudah dibantu oleh ACT. Karena kalau di sini susah dapat air. Inginnya kita ada lagi bantuan-bantuan seperti ini. Kalau bisa sampai musim hujan nanti malah,” harap Karsih.

Komarudin selaku Kepala Desa Ridogalih mengatakan ia turut bersyukur dengan hadirnya bantuan dari ACT pada hari itu. Pemerintah sendiri, kata Komarudin, terus berupaya membantu warga melalui distribusi air yang mereka berikan hampir setiap hari, terutama melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bekasi.


“Kadang kalau ada warga yang memang mampu, ya mereka beli air. Kalau mau beli satu tangki air yang besar, itu sekitar 400 ribu rupiah. Sementara satu toren kecil itu harganya 50 ribu rupiah, dapat airnya sekitar seribu liter,” Komarudin menjelaskan.

Namun tidak mudah buat warga untuk membeli air. Komarudin mengatakan bahwa Desa Ridogalih yang dihuni sekitar 12.000 penduduk tersebut kebanyakan berada pada ekonomi menengah ke bawah. Mayoritas warga bekerja sebagai petani, sementara lahan di Desa Ridogalih sendiri semenjak kekeringan ini telah mengalami gagal panen sekitar 50% dari total lahan.

“Kemarin kita gagal panen 50% lah karena kekeringan. Lahan seluruhnya di desa ini yang tercatat itu ada sekitar 500 hektare dan hampir setengahnya gagal panen. Ada yang memang tanamnya sempat lebih awal, mereka beruntunglah bisa panen lebih dahulu sebelum adanya kekeringan ini,” kata Komarudin. []

Bagikan