Imbas Pandemi Covid-19: Siswa di Jakarta Timur Putus Sekolah, Tekanan Guru Honorer Bertambah

Akibat pandemi Covid-19 yang tidak kunjung selesai, banyak siswa berhenti sekolah. Alasannya beragam, namun mayoritas karena ekonomi keluarga yang sulit. Berkurangnya siswa dan KBM daring juga berimbas pada penghasilan guru-guru honorer.

guru guru honorer
Guru-guru SMK Al-Akhyar usai menerima bantuan paket pangan dari Global Zakat-ACT. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA TIMUR – Pandemi Covid-19 mengganggu kegiatan masyarakat di sektor pendidikan. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah ditiadakan dan dilaksanakan secara daring. Siswa harus mengeluarkan biaya lebih, selain SPP, juga untuk membeli kuota internet.

Sejumlah tantangan selama pandemi bahkan membuat sejumlah siswa putus sekolah. Fakta ini bahkan terjadi di Jakarta. Wakil Kepala Sekolah SMK Al-Akhyar, Cakung, Lili Rohili mengungkapkan, 20 persen siswa di sekolahnya berhenti sekolah lantaran harus membantu ekonomi keluarga. Mayoritas siswa yang berhenti sekolah adalah dari kalangan dengan ekonomi menengah ke bawah.

“Akibat pandemi Covid-19 yang tidak kunjung selesai, banyak siswa berhenti sekolah. Alasannya beragam, namun mayoritas karena ekonomi keluarga yang sulit, jadi harus bantu-bantu, seperti berjualan, kerja serabutan, atau menjadi kernet. Ada juga karena orang tuanya meninggal atau bercerai, anaknya jadi gak mau sekolah lagi, keluar,” kata Lili, Jumat (18/6/2021).

Berkurangnya siswa dan KBM daring juga berimbas pada penghasilan guru-guru honorer. Gaji guru honorer disesuaikan dengan jumlah jam mengajar. KBM daring tidak dilakukan delapan jam seperti tatap muka, tetapi hanya dua hingga tiga jam. “Gaji per jam juga sekarang dipotong 40 persen,” terang Lili.

Kondisi ini pun mendapat perhatian dari ACT. Wuryanto dari Tim Program ACT Jakarta Timur menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun tim, di SMK Al-Akhyar banyak guru honorer yang harus menunggak bayar kontrakan, salah satunya karena gaji yang diterima tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan.

“Misal gaji guru honorer Rp1 juta per bulan, buat bayar kontrakan Rp700 ribu, sisa Rp300 ribu. Sisa itu untuk makan sekeluarga istri, suami, dua anaknya. Mau enggak mau potong uang bayar kontrakan untuk makan,” kata Wuri.

Wuriyanto berharap kedermawanan bisa membantu para guru dan siswa. Sebagai bantuan tahap awal, Jumat (18/6/2021) lalu, ACT melalui Global Zakat mengirimkan bantuan paket pangan untuk para guru.[]