Imbas Tsunami, Ratusan Warga Pesisir Kehilangan Pekerjaan

Imbas Tsunami, Ratusan Warga Pesisir Kehilangan Pekerjaan

Imbas Tsunami, Ratusan Warga Pesisir Kehilangan Pekerjaan' photo

ACTNewsPANDEGLANG – Kerusakan kapal nelayan Selat Sunda akibat terjangan tsunami berimbas kepada rantai perkenomian masyarakat. Pasalnya, nelayan bukan satu-satunya pihak yang mengalami kerugian. Kerusakan kapal membuat ratusan pekerja pengolah ikan lainnya tidak lagi memiliki penghasilan di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten.

Keadaan itu disampaikan Manajer Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Sumur Dedi Saefullah. Menurut Dedi, pascabencana tsunami melanda Kecamatan Sumur, ribuan orang kehilangan pekerjaan. “Satu kapal biasanya digunakan empat nelayan, ada 82 kapal yang rusak. Belum lagi ratusan bagan (tempat menangkap ikan di laut yang menggunakan cadik untuk peletak jala) yang rusak. Ada juga ibu-ibu yang biasa memilah ikan, bisa mencapai 50 orang per sobong,” jelas Dedi.

Sobong merupakan tempat pengolah ikan yang biasanya berada di pesisir. Setiap pengusaha pengolah ikan di Kecamatan Sumur memiliki sejumlah sobong. Semua kegiatan pengolahan ikan, seperti menyortir, membersihkan, memasak ikan dilakukan di Sobong. “Satu sobong rusak, ratusan orang kehilangan pekerjaan,” tambah Dedi.

Daimin Saleh (83) adalah salah satu pengusaha pengolah ikan asin di Kecamatan Sumur. Ia memiliki satu sobong di Desa Sumberjaya. Daimin mempekerjakan delapan orang yang bertugas menjemur ikan dan hingga 90 orang bertugas menyortir, membersihkan, dan menggarami ikan. Akibat tsunami, sobong Daimin hancur. Hal itu membuat pekerja Daimin kehilangan mata pencarian.

“Sebagian masih saya pekerjakan, sebagian lagi ada yang saya beri upah setengah bayaran. Saya tetap kasih karena mereka punya anak dan istri,” ungkap Daimin kepada tim ACTNews saat ditemui Ahad (20/1).

Kerugian yang dialami Daimin ditaksir sampai ratusan juta. Perhitungan itu termasuk kerusakan sobong, kapal-kapal pencari ikan, kapal transportasi nelayan menuju bagan, dan bagan-bagan yang tidak bisa lagi digunakan. “Dari 14 bagan, delapan bagan rusak,” jelasnya.

Tiga minggu tsunami berlalu, sejumlah aktivitas mulai tampak di sobong Daimin. Ahad (20/1). sejumlah pegawai terlihat mengayak dan mengemas Ikan Asin Tembang yang akan dikirim ke Bogor. Namun Daimin mengaku penjualannya belum bisa maksimal. “Kalau 2-3 ton (ikan asin) sudah ada ini, ada pemasukan,” ucapnya. Daimin pun belum bisa memastikan perbaikan bagan dan kapal-kapalnya yang rusak.

Nelayan di Kecamatan Sumur mendapatkan ikan dengan cara memasang bagan di tengah laut. Biasanya, bagan terbuat dari bambu dan drum-drum yang diberi lampu dan jaring. Ada juga bagan yang dimodifikasi dari kapal. Biaya yang dikeluarkan untuk satu kapal bagan biasanya ditaksir hingga ratusan juta rupiah.

Beberapa hari pasca bencana, Daimin dan keluarganya pun mengandalkan bantuan dari pemerintah dan relawan. Bantuan yang ia terima pun turut ia bagikan kepada para pekerjanya.

Sebulan sudah musibah tsunami berlalu, namun kehidupan ekonomi nelayan pesisir di Kecamatan Sumur masih lumpuh. Ahad (20/1) sejumlah nelayan tampak bergotong royong memperbaiki kapal di kecamatan pintu gerbang menuju Taman Nasional Ujung Kulon itu. []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan