Indeks Harga Pangan Dunia Naik 32,8 Persen Dibanding Tahun Sebelumnya

FAO mencatat pada 2021, rata-rata harga pangan melonjak hingga 32,8 persen. Saat ini, 155 juta orang di dunia menderita kelaparan akut dan berpotensi kehilangan nyawa jika tidak mendapat bantuan pangan segera.

indeks harga pangan dunia
Ilustrasi. Harga pangan terus melonjak, membuat masyarakat prasejahtera sulit memenuhi kebutuhan pangan. (Dokumen istimewa)

ACTNews, JAKARTA – Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyatakan indeks harga pangan pada akhir September lalu, yaitu 130,0 poin. Angka tersebut naik sekitar 32,8 persen dibanding periode yang sama pada 2020 lalu. Hal ini menunjukkan tiap tahun, harga pangan terus melonjak dan semakin sulit didapat masyarakat dari kalangan prasejahtera.

Ironisnya, FAO mencatat komoditas yang paling signifikan kenaikan harganya adalah gandum, beras, dan jagung. Untuk gandum, harga rata-ratanya naik hingga 41 persen dibanding tahun 2020. Hal yang serupa terjadi pada beras. Sementara untuk jagung, naik hingga 38 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sementara itu, untuk pangan lainnya yang mengalami kenaikan harga cukup signifikan, disebut FAO diantaranya adalah berbagai produk susu, termasuk mentega. Dalam satu bulan saja, kenaikan mencapai 1,5 persen. Kemudian untuk daging-dagingan, tahun ini naik hingga 26,3 persen dibanding tahun sebelumnya.

Selain karena pengetatan ketersediaan ekspor di tengah permintaan yang kuat, menurut FAO sebab lain yang menyebabkan rata-rata harga pangan dunia naik signifikan adalah pandemi Covid-19, ancaman hama yang merusak panen petani, wabah penyakit, konflik, hingga perubahan iklim.

"Kebutuhan bantuan pangan meningkat lebih cepat daripada yang tersedia, membuat paradigma bantuan saat ini tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Kita harus mulai bertindak atas risiko krisis pangan di masa depan,” kata Janez Lenarcic, Komisaris Uni Eropa untuk Manajemen Krisis.

Berdasarkan hasil pertemuan tingkat tinggi dari Sekretaris Jenderal PBB dan KTT Sistem Pangan PBB, jumlah orang yang menderita kelaparan akut mulai meningkat tajam setelah beberapa dekade menurun.  Saat ini, 155 juta orang di dunia menderita kelaparan akut dan berpotensi kehilangan nyawa jika tidak mendapat bantuan pangan segera.[]