Indonesia Darurat Kesehatan Jiwa

Memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, nyatanya Indonesia masih dilanda darurat kesehatan jiwa. Kita tengah dihadapkan pada permasalahan yang serius dan cukup kompleks untuk diselesaikan.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021
Ilustrasi. Lalu-lalang orang sedang menyeberang jalan. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Isu kesehatan jiwa masih menempati ruang hampa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal, risiko terkena gangguan jiwa tidak mengenal usia, gender, ras, agama, pekerjaan, maupun status sosial dan ekonomi. Kita semua berisiko terkena gangguan jiwa.

Namun, Kementerian Kesehatan menyebutkan, stigma masih menyelimuti isu kesehatan jiwa karena sebagian besar masyarakat masih mempercayai gangguan kesehatan jiwa pasti disebabkan oleh hal yang tidak rasional maupun supranatural.

Kementerian Kesehatan pada 2017 merilis data terkait perhitungan beban penyakit gangguan jiwa yang dialami oleh masyarakat Indonesia diantaranya gangguan depresi, cemas, skizofrenia, bipolar, gangguan perilaku, autis, gangguan perilaku makan, cacat intelektual, dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

ACTNews berkesempatan menemui Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), Dr. dr. Diah Setia Utami, SpKJ., MARS., yang mana ia menuturkan isu kesehatan jiwa di Indonesia memiliki permasalahan yang serius dan cukup kompleks untuk diselesaikan.

Melahirkan stigma

Menurut Diah, sengkarut stigma terhadap gangguan jiwa di Indonesia telah terjadi sejak lama dan masih terjadi hingga saat ini. Masyarakat memandang Orang Dengan Gangguan Kejiwaan (ODMK) dan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sebagai sesuatu hal yang tabu dan patut untuk dijauhi.

Hal ini jelas mengakibatkan ODMK dan ODGJ dipaksa menempati ruang yang terbatas dalam berekspresi dan minim mendapatkan layanan kesehatan jiwa. Diah mengakui, banyak keluarga di Indonesia cenderung malu dan menutupi kasus, jika ada salah seorang anggota keluarganya terkena gangguan jiwa.

“Banyak sekali keluarga atau masyarakat yang memutuskan ODGJ itu dipasung dan tidak diizinkan keluar rumah. Dan yang lebih parah mereka tidak mau mencarikan pengobatan, dikarenakan malu seolah ini aib yang harus ditutupi. Ini menjadi stigma yang terus menerus ada di masyarakat kita,” ungkap Diah, kepada ACTNews, Selasa (5/10/2021).

Mantan Direktur Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan ini, menyebutkan, lahirnya stigma itu ada pada setiap level masyarakat. Bahkan, masyarakat berpikir kalau ODGJ tidak bisa sembuh dan telah dicap menjadi penyakit kutukan. Diah berkeyakinan ini dikarenakan minimnya akses pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan jiwa.

“Gangguan jiwa itu rentangnya panjang mulai dari ringan hingga berat. Jadi jangan seolah gangguan jiwa hanya ODGJ yang gelandangan di jalanan, bukan begitu. Kita terkena gangguan tidur atau takut menghadapi suatu situasi saja, itu termasuk gangguan jiwa kategori depresi atau kecemasan,” jelasnya.

Minimnya akses

Kondisi minimnya akses menjadi penyumbang Indonesia darurat kesehatan jiwa, pasalnya, secara persentase jumlah psikiater atau dokter spesialis kedokteran jiwa hanya 1.113 orang, yang mana jika dilakukan perbandingan seorang psikiater harus menjangkau 250.000 penduduk Indonesia.

“Jadi memang kita di Indonesia ini kekurangan psikiater dibanding negara-negara lain. Bayangkan seorang psikiater harus menangani 250.000 penduduk, ini kan enggak mungkin bisa dijangkau seluruhnya. Apalagi sebagian psikiater berada di Pulau Jawa dan kota-kota besar saja,” ungkap Diah.

Tak hanya itu, penyedia layanan asuransi juga tidak mengakomodir pelayanan kesehatan jiwa. Misalnya jika seseorang melakukan percobaan bunuh diri akibat depresi atau psikotik, maka penyedia layanan asuransi berdalih itu adalah kondisi yang dibuat sendiri dan tidak bisa ditanggung untuk berobat ke layanan psikiater.

Kesetaraan

Diah menekankan, pentingnya kesadaran dan kepedulian tiap individu masyarakat terhadap isu kesehatan jiwa. Apalagi kesehatan jiwa itu saling bertaut dan tidak bisa dipisahkan dengan kesehatan fisik. Kesetaraan jiwa dan fisik adalah kunci dalam menyeimbangkan kondisi tubuh yang sehat.

“Ini tidak bisa dilepaskan. Semua penyakit fisik itu mempengaruhi kesehatan jiwa. Misalnya kalau orang berpenyakit jantung, itu kan dibilang oleh dokter untuk menjaga jangan sampai terkena serangan jantung yang bisa berisiko kematian. Apa enggak bikin stress itu, setiap hari berpikiran bisa mati kapan saja, itu membuat stres loh,” ungkap Diah.

Wanita yang pernah menjabat Deputi Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional ini menegaskan pentingnya setiap individu untuk mengenal dirinya masing-masing. Apalagi setiap individu memiliki keunikan dan sifat yang berbeda satu sama lain. Nantinya, akan paham mengenai kapasitas jiwa saat menghadapi suatu masalah.

“Kesehatan jiwa itu tidak kasat mata dan masyarakat seringkali tidak menyadari kalau sudah terkena gejala gangguan jiwa. Jangan malu untuk mengakui ada yang bermasalah dari diri kita. Punya prinsip gini loh, ketika orang datang ke Psikiater bukan berarti punya gangguan jiwa berat,” tuturnya.[]