Ini Kata Masyarakat Soal Lumbung Air Wakaf Indonesia di Palestina

ACTNews mewawancarai sejumlah warga untuk menanyakan pendapat mereka tentang pembangunan pabrik air minum di Gaza, Palestina.

lumbung air wakaf palestina
Lumbung Air Wakaf yang hampir rampung. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Pembangunan Lumbung Air Wakaf oleh dermawan Indonesia di Palestina hampir rampung. Berada di Alkarama, Timur Jabalia, Gaza Utara, Lumbung Air Wakaf didesain untuk memproduksi hingga 250 ribu liter air per hari. Sebagian produk akan dikemas menjadi air botol siap minum. 

Kabar proyek kemanusiaan ini pun terus digaungkan kepada masyarakat Indonesia. Sejumlah masyarakat pun mengapresiasi ikhtiar Indonesia membangun sumber air di Gaza itu.

Chitra Rahmawati, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Jakarta menuturkan kekagumannya terhadap Lumbung Air Wakaf yang tengah dibangun masyarakat Indonesia. Chitra menuturkan, dirinya telah mengetahui soal isu krisis air yang melanda wilayah Palestina, khususnya Gaza. Pembangunan Lumbung Air Wakaf dianggap Citra sebagai salah satu solusi atas permasalahan air di Gaza.

"Pernah baca juga di berita kalau air di sana itu tercemar. Jadi dengan adanya bantuan air bersih, pasti akan sangat membantu masyarakat Palestina," ujar Chitra kepada tim ACTNews, Sabtu (20/11/2021).

Muhammad Yanuar, seorang karyawan swasta yang bekerja di bidang media juga mendukung kehadiran Lumbung Air Wakaf di Gaza. "Bahkan kalau memungkinkan, bisa ditambah satu unit lumbung lagi. Harapan saya, pabrik ini bisa bertahan lama dan terhindar dari serangan-serangan Israel," kata Yanuar.

Sementara itu, Mustari, seorang guru mengaji yang ditemui tim ACTNews di tempatnya mengajar, mengaku ikut tertarik untuk bisa berkontribusi dalam pembangunan maupun operasional  Lumbung Air Wakaf. Sebab, ia meyakini bahwa ada beberapa hadis yang menyatakan bahwa sedekah air bisa menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan pengampunan Allah SWT dan akhirnya mendapatkan surga.

“Namanya Lumbung Air Wakaf. Mudah-mudahan, pahala wakaf yang akan kita dapatkan. Pahala tersebut bisa terus mengalir dan kita dapatkan meskipun nantinya kita telah meninggal,” jelas Mustari.

Krisis air di Gaza merupakan imbas serangkaian serangan militer Israel. Banyak pabrik desalinasi air di Gaza yang dilaporkan rusak. Gaza pun kesulitan memproduksi air bersih secara mandiri.

Air keran kota  juga sering tidak berfungsi karena pemadaman listrik yang tiap hari terjadi di Gaza. Jikapun berfungsi, air tanah biasanya akan terlalu asin untuk diminum. Hal ini juga merupakan wilayah Gaza yang dekat dengan Laut Mediterania.[]