Ini Penyebab Fenomena Tanah Bergerak di Tegal

Tanah bergerak di Kabupaten Tegal merusak 448 rumah. Fenomena ini disebabkan banyak hal dan bukan pertama kali terjadi.

fenomena tanah bergerak di Tegal
Bangunan rusak akibat fenomena tanah bergerak di Tegal. (BNPB)

ACTNews, TEGAL – Fenomena gerakan tanah di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, pada Jumat (11/2/2022) merusak ratusan rumah. BPBD Kabupaten Tegal hingga Senin (15/2/2022) pukul 19.00 WIB, mencatat total rumah rusak mencapai 448 dengan rincian rusak berat 174 unit, rusak sedang 189 dan rusak ringan 85.

Dampak gerakan tanah terjadi di dua desa, yaitu Desa Dermasuci di Kecamatan Pangkah dan Desa Padasari di Kecamatan Jatinegara. 

Gerakan tanah ini juga mengakibatkan kerugian material lain yakni dua unit fasilitas pendidikan rusak ringan, 1 unit rusak berat, 1 unit pondok pesantren rusak berat, 1 kantor desa rusak ringan, dan 3 tempat ibadah rusak ringan.

Fenomena tanah bergerak di Desa Dermasuci, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal bukan kali pertama terjadi. Pada 28 Februari 2017 lalu, terjadi fenomena yang sama dan mengakibatkan 73 unit pemukiman rusak dan 91 keluarga mengungsi hingga akhirnya direlokasi ke tempat yang lebih aman. 

Penyebab Tanah Bergerak 

Data Badan Geologi Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, pada 2017 bencana gerakan tanah terjadi setelah turun hujan yang berlangsung siang hingga sore. Kejadian Ini sama dengan yang terjadi pada Jumat (11/2/2022) lalu. 

Secara umum lokasi kejadian fenomena tanah bergerak merupakan perbukitan bergelombang sedang dengan kemiringan sedang. Kemiringan lereng pada lokasi bencana berkisar 25-28 derajat, mempunyai ketinggian 250-275 meter di atas permukaan laut.

 

Kemudian berdasarkan peta geologi Lembar Purwokerto-Tegal, lokasi bencana merupakan bagian dari formasi halang yang tersusun atas batu pasir andesit, konglomerat tufan, dan napal bersisipan batupasir. Di bagian dasar merupakan Formasi Rambatan anggota batu lempung. 

Melihat kondisi tersebut, PVMBG memperkirakan beberapa faktor tanah bergerak di antaranya curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama sehingga tanah selalu jenuh air.  Sifat fisik batuan yang kurang kompak serta tanah pelapukan yang tebal, bersifat gembur, dan jenuh air saat hujan turun. 

PVMBG menerangkan, kemiringan lereng yang agak terjal mengakibatkan tanah mudah bergerak, struktur geologi yang intensif menyebabkan batuan mudah rapuh, serta sistem drainase permukaan yang kurang baik sehingga air terakumulasi dan terkonsentrasi ke lokasi bencana.

Curah hujan yang tinggi dan berlangsung lama membuat air hujan masuk ke dalam pori-pori tanah yang bersifat gembur. Lahan basah yang berada di sekitar pemukiman dengan bangunan yang berat menyebabkan tanah menjadi jenuh, bobot massa tanah meningkat dan tekanan air pori meningkat. 

Bobot massa tanah yang tinggi, pelapukan yang tebal, kemiringan lereng lebih dari 20 derajat, serta curah hujan yang tinggi membuat tahanan lereng lemah. Dipicu gaya gravitasi, maka terjadilah gerakan tanah tipe rayapan.[]