Ini Tiga Perbedaan Zakat dan Sedekah

Zakat dan sedekah tidak sepenuhnya sama. Keduanya memiliki perbedaan secara hukum, jumlah, dan waktu pembayaran.

perbedaan zakat dan sedekah
Ilustrasi. Tiga perbedaan zakat dan sedekah.

ACTNews, JAKARTA – Bulan Ramadan menjadi momentum umat Islam untuk banyak berbuat kebaikan. Salah satu amal baik yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW adalah sedekah. Di samping sedekah, di bulan Ramadan umat Islam diwajibkan membayar zakat fitrah. 

Lalu, apa perbedaan zakat dan sedekah?

Menjawab pertanyaan ini, Dewan Syariah ACT Ustaz Bobby Herwibowo memberikan jawaban. 

Perbedaan pertama adalah status hukum zakat dengan sedekah sangat berbeda. Hukum zakat adalah wajib, baik zakat fitrah atau zakat mal (jika sudah memenuhi syarat). Sedangkan hukum bersedekah adalah sunah.

"Zakat adalah salah satu rukun Islam, hukumnya wajib sama seperti sholat lima waktu.  Sedangkan sedekah adalah sunah, meskipun ada sedekah yang sifatnya wajib yakni sedekah nazar," kata Ustaz Bobby, Selasa (12/4/2022). 

Perbedaan kedua antara zakat dengan sedekah adalah waktu menunaikannya. Sedekah bisa dilakukan kapanpun sepanjang tahun, baik siang, malam, pagi, atau sore. Sedangkan waktu pembayaran zakat ditentukan. 

"Zakat fitrah ditunaikan selama bulan Ramadan dengan batas sebelum sholat Idulfitri. Sedangkan zakat mal dibayar saat sudah haul dan mencapai nisab, haul bisa di luar bulan Ramadan," jelasnya. 

Perbedaan zakat dan sedekah yang ketiga ialah jumlahnya. Sedekah bisa ditunaikan dengan besaran berapapun dan dalam bentuk apapun, semilas uang atau makanan atau barang apapun yang bernilai.

"Zakat takarannya jelas, jika zakat fitrah sekitar 3 kg makanan pokok di Indonesia. Sementara zakat mal tergantung jenis hartanya, kalau harta emas nisabnya adalah 85 gram dan zakatnya 2,5 persen," kata Ustaz yang biasa disapa Usbob ini. 

Sedekah di bulan Ramadan

Di bulan Ramadan, hendaknya umat Islam meningkatkan kedermawanannya, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW. Menurut Buya Yahya, Nabi adalah seorang yang dermawan. Saat datang bulan Ramadan, Nabi sengaja meningkatkan kedermawanannya. 

"Dermawan di Ramadan akan menjadi kebiasaan di luar bulan Ramadan. Jangan hanya mau dermawan saat Ramadan saja, ini salah kaprah," tegas Buya Yahya.[]