Ini yang Terjadi Sebelum dan Sesudah Krisis Kemanusiaan Melanda Yaman

Perang saudara di Yaman telah berlangsung tujuh tahun, dimulai pada 2015. Sejak saat itu kehidupan warga Yaman berubah. Mereka menjalani hari penuh ketidaknyamanan.

dampak konflik yaman
Ilustrasi. Konflik menyebabkan krisis kemanusiaan dialami jutaan penduduk Yaman. (Dokumen Istimewa)

ACTNews, YAMAN – Perang telah membuat kehidupan 30 juta penduduk Yaman berubah. Mereka terjebak dalam krisis kemanusiaan. Perubahan drastis itu pun terbingkai dalam sepenggal cerita perbandingan kehidupan masyarakat Yaman sebelum dan sesudah perang.

Dari Kompor, Jadi Kayu Bakar
Ghadam Salem, ibu dari tiga anak ini merupakan pedagang kentang rebus. Sebelum konflik di, ia biasa memasak kentang menggunakan kompor tabung propana. Namun, ibu tiga anak ini sekarang hanya menggunakan kayu bakar untuk memasak.

"Bahan bakar untuk kompor propana telah menjadi sesuatu yang hanya mampu dimiliki oleh keluarga kaya. Jadi sekarang hanya memakai kayu bakar. Kayu bakarnya pun dulu gratis, sekarang tidak lagi. Namun, kayu bakar masih lebih murah dibanding menggunakan kompor," kata Ghadam, seperti dikutip dari Aljazeera.

Anak-anak Korbankan Waktu Bermain

Seperti banyak anak lain yang tinggal di kamp-kamp pengungsi di Yaman, Rahaf Saleh (11) harus rela mengorbankan waktu bermain demi membantu kehidupan keluarganya. Rahaf harus menempuh jarak yang jauh setiap hari untuk mengambil air. Ia akan membawa jeriken berat yang telah terisi air tiap har untuk diantarkan ke orang tuanya guna keperluan sehari-hari.

"Membantu keluarga saya adalah prioritas saya sekarang," katanya.

Kalangan Terpelajar Menjadi Penjual Bensin Eceran

Mohammed Qaid (20) dulunya merupakan mahasiswa yang berasal dari keluarga terpelajar. Setelah konflik, ekonomi keluarganya hancur. Ia pun beralih menjadi penjual bahan bakar eceran. Ia biasa berjualan di dekat pom bensin yang telah tutup di Kota Taiz. Kekurangan bahan bakar membuat banyak pom bensin tutup karena tidak kunjung menerima stok.

"Sebelum konflik, saya adalah seorang mahasiswa dan tidak tahu apa-apa tentang bahan bakar. Saat itu tidak ada yang menjual bahan bakar eceran. Sekarang saya menjual bahan bakar di jalan. Ketika pom bensin ditutup, semua orang bergantung pada eceran untuk mengisi ulang bahan bakar mobil dan sepeda motor mereka," kata Qaid.

Dari Rumah Bata, Kini Jadi Tenda

Ameen Abadel (35) adalah ayah dari lima anak di Yaman. Dia dan keluarganya sekarang harus tinggal di tenda pengungsian. Tidak terlindung dari hujan, cuaca dingin, angin, ular, dan reptil lainnya. Padahal, sebelumnya konflik ia memiliki rumah terbuat dari bata yang sangat nyaman untuk ditinggali.

"Pada awalnya, kami pikir ini hanya sementara. Bahwa kami akan kembali ke rumah bata kami. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi, karena sepertinya konflik tidak akan berhenti dalam waktu dekat," kata Abadel.

Guru yang Menjadi Penjual Pisang

Mustafa (38) dulunya adalah seorang guru pada salah satu sekolah di Yaman. Namun sekarang ia merupakan penjual pisang di salah satu pasar di Taiz. Menurut Save the Children, ada lebih dari separuh guru dan tenaga pendidik di Yaman terpaksa mencari sumber pendapatan kedua, seban mereka tidak menerima gaji tetap sejak 2016.

"Siapa yang bisa membayangkan bahwa saya akan berada di titik ini dalam hidup saya. Saya meninggalkan sekolah dan sekarang saya menjual pisang. Saya dalam situasi terburuk dan saya tidak bisa berbuat apa-apa." kata Mustafa.

Pelajar di Pagi Hari, Mekanik di Sore Hari

Ahmed (13) pergi ke sekolah setiap pagi. Selepas sekolah, ia akan bekerja sebagai mekanik di sore hari bersama ayahnya. Uang yang Ahmed hasilkan, digunakan untuk membayar pendidikannya.

Putus Sekolah untuk Bantu Keluarga

Berbeda dengan Ahmed yang masih mampu mempertahankan pendidikannya, Fadhl Bakar (13) harus benar-benar putus sekolah pada 2016 lalu. Keluarganya tak mampu membayar biaya pendidikan anaknya. Fadhl sekarang bekerja serabutan. Ia akan melakukan pekerjaan apapun untuk membantu keluarganya.[]