Inovasi Usaha Bang Pe’i Selamatkan Ekonomi Keluarga saat Karantina Mandiri

Agus Ferdian atau lebih dikenal dengan sebutan Bang Pe’i punya inovasi bisnis yang membantunya bertahan dari kekolapsan ekonomi. Bermula dari menjual siomai dan batagor secara langsung, inovasi produk beku membuat Bang Pei mendapat penghasilan kala dirinya harus menjalani karantina akibat terinfeksi Covid-19.

Agus Ferdian memperlihatkan produk siomai beku yang diberi merek Bang Pe'i. (ACTNews/Eko Ramdani)

ACTNews, BATAM – Pandemi Covid-19 membawa dampak besar pada usaha Agus  Ferdian. Penjual siomai dan batagor, di Kota Batam, itu mengalami penurunan omzet secara drastis. Bahkan, Agus dan lima anggota keluarga sempat terinfeksi Covid-19. Hal itu membuat Agus harus menjalankan bisnis saat kondisi karantina.

Dalam kondisi itu, Agus tetap memperoleh penghasilan dari usaha siomai dan batagor beku. Ia mengandalkan orang kepercayaan karena kondisinya saat itu. “Kondisi saya waktu itu benar-benar harus karantina, saya mengandalkan asisten untuk mengelola bisnis ini. Alhamdulillah, sioami dan batagor frozen tetap bisa berjalan dan cukup untuk menopang ekonomi,” cerita Agus saat ditemui ACTNews di Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Sabtu (20/3/2021).

Sebenarnya, sejak dua tahun lalu, Bang Pe’i sudah merintis produk beku. Siomai dan batagor milik Agus diberi merek Bang Pe’i. Merek ini juga yang kemudian melekat dengan namanya. Agus telah memulai usaha kudapan khas Jawa Barat tersebut sejak 2017.

Pria yang pernah bekerja di Bandara Hang Nadim sebagai pengelola limbah ini mengaku, setelah sembuh ia segera memulai kembali berjualan siomai dan batagor di matang gerobak. Sayang, tidak ada satu pun pembeli selama empat hari.

Sekarang, Bang Pe’i tengah berjuang meningkatkan kualitas serta meluaskan pemasaran produk bekunya. Ia pun telah mendapat akses untuk melakukan ekspor ke Singapura. Ia berharap, ia juga bisa mengirimkan produk makanan beku buatannya itu hingga ke berbagai kota di Indonesia.


Istri Agus menggiling daging ikan sebagai bahan dasar siomai dan batagor merek Bang Pe'i. Mesin penggiling daging didapatkan Agus dari memanfatkan bantuan modal Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia dari Global Wakaf-ACT. (ACTNews/Eko Ramdani)

Akses permodalan

Siomai dan batagor milik Agus diberi merek Bang Pe’i. Merek ini yang kemudian melekat padanya, hingga menjadi sebuah panggilan. Agus dengan merek Bang Pe’i-nya sejak beberapa waktu lalu telah mengikuti pendampingan usaha oleh Melayu Dermawan-ACT. Berbagai hal baru ia temukan, termasuk perbaikan dalam kemasan. Saat ini, Bang Pe’i tengah memesan kemasan baru dari Yogyakarta untuk produk siomai dan batagor bekunya. Ia siap mengubah tampilan produknya yang telah terjual hingga ke berbagai pulau di Kepulauan Riau dengan kemasan yang lebih berwarna dan menarik.

Selain pendampingan, Bang Pe’i juga meningkatkan kualitas alat produksinya. Ia pun membeli bahan-bahan makanan dalam jumlah banyak untuk menekan biaya produksi. Dana yang ia pakai merupakan modal yang diberikan melalui program Wakaf Modal Usaha Mikro Indonesia dari Global Wakaf-ACT.

“Modal yang saya terima dibelikan mesin gilingan daging sama tepung langsung jumlah banyak. Sangat membantu, karena anak saya enggak perlu lagi kerepotan pakai gilingan yang diputar pakai tangan dan lebih efektif untuk produksi,” ungkap Agus.[]