Insyaallah, Wakaf Modal Usaha Mikro Tingkatkan Produksi Pangan Petani

Melalui program Wakaf Modal Usaha Mikro, Global Wakaf - ACT berikhtiar membantu para pelaku usaha mikro, termasuk para petani sebagai produsen pangan. Lewat pemberdayaan petani, ketersediaan pangan juga dapat tercukupi.

Buruh tani di Kecamatan Gung Kaler, Kabupaten Tangerang, kala memanen padi pada April lalu. (ACTNews/Gina Mardani)

ACTNews, JAKARTA – Dalam lebih dari 20 tahun terakhir, Indonesia akhirnya mengumumkan bahwa mereka mengalami penurunan ekonomi pada kuartal II tahun 2020 ini. Namun di antara banyak sektor, ada 3 sektor yang mencatatkan pertumbuhan, yakni pertanian, informasi, dan komunikasi. Sepanjang April-Juni 2020 sektor pertanian sendiri tetap tumbuh sebesar 2,19% secara tahunan.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pertanian menjadi sektor yang tidak terlalu terpengaruh meski ekonomi mengalami resesi. Sebab pangan akan selalu dibutuhkan sekalipun saat krisis ekonomi.

“Pertanian, memang menurut pengalaman saya dari resesi ke resesi, tidak pernah terganggu terlalu besar, dampaknya ada, tetapi paling tidak tetap dibutuhkan orang, semua butuh makan," ungkapnya dalam webinar Ketersediaan dan Keterjangkauan Pangan Dalam Pelaksanaan PEN, pada Kamis (13/8) lalu. Oleh sebab itu, pertanian diyakini mampu menjadi pendongkrak perekonomian nasional, terutama di tengah pelemahan ekonomi akibat pandemi.

Potensi ini juga yang didukung oleh Global Wakaf – ACT. Melalui program Wakaf Modal Usaha Mikro, Global Wakaf – ACT memberdayakan pelaku usaha mikro dan para petani dalam menjalankan aktivitas mereka.


“Kita melihat petani-petani yang saat ini sedang kerepotan karena banyak modal usaha dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang tidak turun ke mereka. Dan kita ajak kepada semuanya supaya sedekah kita, wakaf kita, akan menjadi solusi kepada petani untuk berproduksi,” kata Presiden ACT Ibnu Khajar di peluncuran Wakaf Modal Usaha Mikro pada Rabu (19/8) ini.

Kurangnya modal dan sulitnya syarat permodalan memang membuat para petani lebih memilih bank emok, alias rentenir, sebagai solusi permodalan. Hanya butuh KTP dan kartu keluarga, bank emok bisa langsung mengeluarkan uang Rp3 juta kepada para petani, namun cicilannya lumayan mencekik. Demikian menurut Odang, salah seorang petani bernama Odang asal Desa Telarsari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang.

“Pinjamnya Rp3 juta, cicilannya Rp90 ribu per minggu untuk satu tahun dan banyak masyarakat yang ikut. Karena bagi orang-orang kecil dan menengah ke bawah, ini tidak banyak syaratnya. Kalau bank biasa kan, banyak syaratnya. Kalau ada yang tidak bisa bayar (rentenir), kita (anggota kelompok tani) akhirnya membantu bayar,” cerita Odang.

Odang yang datang langsung dalam helatan itu juga mengapresiasi adanya program Wakaf Modal Usaha Mikro. Ia berharap banyak masyarakat nantinya yang dapat terbantu dengan program ini. “Untuk masyarakat kecil ya, bagus, adanya bantuan (wakaf) pinjaman modal usaha untuk masyarakat menengah ke bawah, dan tidak ada bunganya,” ucap Odang.


Ibnu menyalurkan dana usaha mikro secara simbolis kepada Odang. (ACTNews/Reza Mardhani)

Penyaluran modal usaha dari program Wakaf Modal Usaha Mikro ini harapannya akan mempermudah para petani dalam memperoleh permodalan, sehingga para petani tak perlu lagi mencari modal usaha dari pinjaman rentenir melainkan dana wakaf masyarakat yang bebas riba. Dengan hamparan sawah ladang yang begitu luas dan petani yang berdaya, harapannya Global Wakaf – ACT dapat menghidupkan kembali produktivitas petani dan semangat mandiri dalam pangan.

“Ini bagian besar dari Gerakan Nasional Lumbung Sedekah Pangan. Kita tidak ingin menggerakkan di hilirnya saja dengan distribusi bantuan pangan, tapi kita juga ingin masuk ke hulunya. Pangan ini menjadi salah satu yang paling penting pada saat kita membincang tentang kemiskinan. Orang mengatakan, ‘Kita menguasai pangan, maka kita menguasai masyarakat’,” kata Ibnu.

Ibnu pun mengajak para dermawan untuk turut berkontribusi dalam program ini. “Maka hari ini kita katakan, satu juta (petani dan pengusaha mikro) akan kita bantu. Pertanyaannya adalah, kalau satu orang dapat Rp5 juta, dan akan ada satu juta jiwa yang kita bantu, berapa dana yang harus kita kumpulkan? Orang mengatakan, itu sangat besar. Iya, sangat besar kalau kita sendiri-sendiri. Kalau semua umat ini mewakafkan dari hartanya yang Rp50 ribu ia bawakan, yang Rp10 ribu ia bawakan, yang Rp 100 ribu ia bawakan, tidak usah menunggu uangnya besar baru kita berwakaf. Maka setiap waktu kita telah menambah pahala dan sedekah jariyah kita untuk keberkahan keluarga, dan seluruh umat Islam di mana-mana,” ajaknya. []