IPMI Jepang Salurkan 150.000 Liter Air Bersih untuk Korban Gempa Maluku

Sebagian warga di Maluku Tengah masih memilih mengungsi karena gempa kecil yang kerap terjadi ataupun rumah mereka yang sudah tidak layak ditinggal. Empat bulan mengungsi, bukan berarti tanpa kendala. Air bersih adalah salah satu kendala di pengungsian.

IPMI Jepang Salurkan 150.000 Liter Air Bersih untuk Korban Gempa Maluku' photo
Pengungsi di Desa Waai, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah mengantre untuk mendapatkan bantuan air bersih. (ACTNews/Maya)

ACTNews, MALUKU TENGAH Pemulihan pascabencana gempa di Maluku terus berlangsung, untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Ikatan Perawat Muslim Indonesia (IPMI) Jepang bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) Maluku berkolaborasi untuk mendistribusikan air bersih untuk memenuhi kebutuhan para penyintas gempa di Maluku Tengah. 

Penyaluran air bersih dilakukan beberapa desa, yaitu Desa Waai dan Desa Liang, keduanya berada di Kecamatan Salahutu. Sebanyak 150.000 liter air akan didistribusikan hingga satu bulan ke depan, dengan per harinya 5.000 liter air disalurkan. Penyaluran air bersih di mulai sejak Sabtu (18/1) lalu.

Telah empat bulan para penyintas gempa di Maluku berada di kamp-kamp pengungsian. Sebagian dari mereka rumahnya telah runtuh. Kerap adanya gempa kecil juga membuat mereka memilih bertahan di pengungsian.

Selama mereka mengungsi, sumber air bersih amat sulit ditemui. Sekalinya ada, mereka harus membeli. Pance, salah satu penyintas gempa di Desa Wai menceritakan bahwa ia dan sejumlah pengungsian sangat kesulitan air bersih. 

Beta mewakili para pengungsi di Desa Waai berterima kasih kepada ACT dan IPMI Jepang telah kasih katong air bersih. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Tuhan,” ungkap Pance

Pance mengaku, untuk memenuhi kebutuhan mandi dan buang air, pengungsi harus mengambil air di desa yang dapat dicapai menggunakan ojek. Tarifnya Rp10 ribu untuk satu kali jalan membawa tiga jeriken. Pance harus mengeluarkan biaya dalam satu hari sebesar Rp20 ribu atau terkadang ia memilih  tidak mandi dalam sehari. 

Muhammad Syamsudin Mahu dari Tim Program ACT Maluku mengungkapkan, pengungsi di Desa Waai adalah salah satu kelompok pengungsi yang paling membutuhkan air bersih. “Sebab itu, kami memilih lokasi tersebut untuk pemenuhan kebutuhan air bersih selama satu bulan,” kata Syamsudin.[]


Bagikan