Ironi Petani yang Harus Beli Beras karena Gagal Panen

Banjir di Desa Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara, membuat Suciono mesti menanam ulang lahannya. Lalu banjir datang lagi dan merusak lahan yang baru ditanami padi. Tak ada untung yang ia dapat, melainkan rugi dua kali lipat.

Suciono menerima Wakaf Modal Usaha Mikro dari Tim Global Wakaf - ACT. (ACTNews)

ACTNews, DELI SERDANG – Beberapa sabitan pamungkas diakhirkan dalam ikatan rumput yang dipikul keatas sepeda motor di pematang sawah. Dari kejauhan sayup azan terdengar menandakan waktu asar telah tiba, Suciono (58) beberapa saat merapikan ikatan rumput di sepeda motornya sebelum mengajak Tim Global Wakaf – ACT singgah di gubuk mungil tempat ia beristrahat di tengah sawah.

Setelah bersih-bersih dan salat asar, ayah empat anak ini kemudian menikmati secangkir kopi kemasan yang diseduh di atas tungku kayu. Kopi kemasan sisa kumpul rembuk forum petani beberapa hari yang lalu itu menjadi pemanis suasana dan cerita di Desa Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatra Utara Selasa (8/9) sore itu.

“14 rante (1 rante = 14 meter persegi) luasan total lahan yang saya kelola, termasuk 1 kolam tanah ukuran 5 x 12 meter,” katanya. Sampai saat ini kolam pun belum bisa dimaksimalkan untuk menjadi tambahan penghasilan, hanya sawah yang dipaksakan sebagai penopang ekonomi keluarga. Itu pun kalau tidak ada kendala, seperti dua musim tanam ke belakang beruntun gagal panen.

“Ya kalau tidak kena banjir dua kali kemarin mungkin saya enggak perlu ngutang sana sini,” ujar Suciono sambil sedikit tertawa geli menutup rasa getir yang sudah dilaluinya. Hujan lebat di hulu dan pasang besar di hilir memaksa alur sungai sumber pengairan mereka meluap menghanyutkan semua yang ada di petakan sawah. Banjir pertama di awal September saat usia tanam masuk umur sebulan. “Selang sebulan, saya benihkan lagi sambil merapikan petakan sawah dari sisa banjir. Harapannya cuaca bagus dan tidak banjir lagi,” lanjut Suciono.


Setelah banjir pertumbuhan padi menurutnya memberi pengharapan. Anakannya tumbuh bagus sekali, membuat Suciono semangat untuk setiap hari berangkat ke sawah. Ia begitu yakin hasil kali itu akan melimpah menggantikan kerugian dan hutang tanam yang belum terbayar.

“Saking semangatnya, saya beranikan untuk utang beli pupuk NPK dan urea serta racun (pestisida) sekaligus. Saya habis total totalnya Rp 4 juta kemarin itu. Utang beli buat pupuk dan ongkos tanam dua kali. Namun lewat 3 hari setelah pemupukan terakhir, banjir datang lagi. 4 hari semua terandam, batang busuk dan tumbanglah semua,” Suciono mengulang lagi cerita nahas itu.

Rasa tak enak hati meghinggapinya jika bertemu dengan orang yang kemarin ia utangi. Campur aduk menurutnya, ada rasa malu dan sesak teringat utang yang belum mampu ia bayar. “Apalagi langsung teringat uang pupuk, racun, semuanyalah. Bisanya ya istigfar ajalah. Nenangkan hati,” kata Suciono sambil meletakan gelas kopi yang tidak jadi diseruput.

Terutama di masa pandemi ini, semua jadi serba sulit. Tiga anaknya belajar harus mengikuti pembelajaran jarak jauh, dan butuh lebih dari Rp 50 ribu setiap bulannya. Stok simpanan padi juga sudah mulai habis. Ditambah listrik di rumah yang terus-terusan minta dibayar.


“Kadang kalau ngumpul dengan kawan di forum petani, kami sering ngetawain diri masing-masing. Petani nanam padi tapi stok beras di rumah enggak ada. Kami ini petani apa rupanya? Kalau petani semangka wajar kalau beli beras karena tanamnya semangka, tapi kalau tanam padi enggak punya beras itu petani apa namanya?” kelakar Suciono.

Beberapa kali forum petani di Desa Hamparan Perak berkumpul untuk mencari solusi yang pada akhirnya tiba lewat Global Wakaf – ACT. “Sampailah abang dari Tim Global Wakaf – ACT datang bawa kabar segar dengan program Wakaf Modal Usaha Mikro, solusi kami petani kecil ini. Semoga kami bersawah bisa lebih barokah, hasilnya ke depan dan programnya bisa cepat dijalankan di Forum Kelompok Tani Puja Kesuma Melayu Deli (FKTMD),” harap Suciono.  Selain Suciono, 17 keluarga lain juga menerima manfaat dari hadirnya program ini.

Manajer Global Wakaf – ACT Jajang Fadli menyampaikan, permasalahan ini merupakan permasalahan yang umum dialami oleh mayoritas petani kecil. Berikhtiar mendukung usaha petani dalam menyediakan pangan, Global Wakaf - ACT menginisiasi program Wakaf Modal Usaha Mikro.

Jajang pun mengajak masyarakat untuk bersama-sama mendukung kerja petani. "Bukan cerita baru, kita kerap dengar masih banyak petani yang diberatkan oleh pinjaman. Kami berharap, dengan semangat kedermawanan, kita bisa menopang petani sebagai salah satu produsen pangan dan penjaga negeri," harap Jajang. []