Israel Diduga Rusak 100 Ribu Alat Tes Usap untuk Palestina

Menteri Kesehatan Palestina Mai al-Kailah menduga bahwa Israel merusak sekitar 100 ribu alat tes swab untuk Palestina. Padahal kondisi akibat pandemi saat ini membuat berbagai kebutuhan di Palestina, termasuk kebutuhan kesehatan, sangat mendesak.

Israel Diduga Rusak 100 Ribu Alat Tes Usap untuk Palestina' photo
Seorang pekerja medis Palestina mengambil sampel tes usap dari seorang pria di sebuah masjid di Kota Gaza, saat menguji potensi kasus penyakit virus corona. (AFP/Mahmud Hams)

ACTNews, GAZA – Israel selalu punya upaya untuk menghalangi kemerdekaan hidup warga Palestina. Seperti baru-baru ini, Menteri Kesehatan Palestina Mai al-Kailah menduga bahwa Israel merusak sekitar 100 ribu alat tes usap (swab test) untuk Palestina. Tudingan tersebut disampaikan al-Kailah dalam wawancaranya dengan Voice of Palestine pada Selasa (22/9) lalu.

“Apa yang tersedia di kementerian hanya cukup untuk melakukan pemeriksaan selama tiga hari,” katanya seraya menambahkan bahwa ada janji alat tes usap berikutnya akan tiba Rabu (23/9). Otoritas Israel belum memberikan komentar apa pun terkait tudingan ini. Israel sendiri mengontrol wilayah perbatasan Al Karama, satu-satunya pos pemeriksaan antara Tepi Barat dan Yordania.

Perserikatan Bangsa-Bangsa juga memperkirakan pada pekan ini bantuan donor dari dunia kepada Palestina akan turun ke level terendah dalam periode satu dasawarsa terakhir. Melihat kekurangan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan bantuan. WHO disebut telah menyediakan sebanyak 20.000 alat tes usap untuk wilayah Jalur Gaza.

Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Nickolay Mladenov, memuji langkah WHO karena memasok lebih banyak alat pengujian kepada Palestina di tengah kekurangan yang tengah mereka hadapi. Dia menambahkan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia di Wilayah Pendudukan Palestina mengirimkan 20.000 lebih penyeka dan persediaan ekstraksi laboratorium untuk 6.000 tes.


Seorang lelaki memakai masker di wilayah Al-Quds, sebagai upaya pencegahan virus corona di Palestina. (AFP/Ahmad Gharabli)

Pandemi virus corona yang masih terjadi saat ini juga telah memperburuk situasi di wilayah Palestina. Sampai kini masih sulit bergerak. Pandemi yang kembali mengganas sejak akhir Agustus lalu membatasi aktivitas warganya hingga saat ini.

“Beberapa wilayah memang sekarang sudah mulai beraktivitas, tapi berdasarkan zona. Warga Gaza yang berada di wilayah kuning, yang mana jumlah kasusnya terdata lebih sedikit, diperkenankan beraktivitas dengan menggunakan masker. Bagi yang berada di zona merah masih diberlakukan lockdown total,” jelas Said Mukaffiy dari Tim Global Humanity Response (GHR) – Aksi Cepat Tanggap (ACT) pada Sabtu (26/9) ini. Sistem ini telah berlaku semenjak pekan lalu.


Kondisi ini menggerakkan ACT untuk terus menyampaikan amanah para dermawan kepada warga Palestina. Seperti pada Kamis (10/9) lalu, ACT memberikan bantuan berupa vitamin dan perlengkapan kebersihan kepada para pengungsi internal Kamp Alnuesirate, Gaza Tengah. Selanjutnya Tim GHR – ACT berencana mengirimkan bantuan pangan. “Mengingat saat ini bantuan pangan sangat mendesak di Gaza, maka kita sudah merencanakan untuk bantuan selanjutnya, insyaallah,” ujar Said.

Walau dengan semua ikhtiar dan bantuan, Covid-19 di Palestina juga terus bertambah. Pada Jumat (25/9) lalu, otoritas kesehatan Palestina mengumumkan 452 warga Palestina positif mengidap virus corona, dan lima lainnya meninggal di wilayah pendudukan. Oleh karenanya Said mengajak para dermawan untuk terus berkontribusi, melihat kondisi warga Palestina saat ini.

“Kami mengajak para dermawan untuk terus membantu kehidupan warga Gaza. Sahabat bisa memberikan sedekah terbaik melalui laman Indonesia Dermawan atau transfer melalui rekening BNI Syariah 6600003314 atas nama Aksi Cepat Tanggap,” ajak Said. []

Bagikan

Terpopuler