Jadi Tulang Punggung Keluarga, Nenek Restan Mengais Beras di Cipinang

“Saya tulang punggung bener-bener, Demi Allah. Kemarin sampai enggak punya duit sama sekali. Makan ada nasi tapi enggak ada lauk, Ya kita biarin lah yang penting hidup kita sehat, saya minta sehat aja sama Allah,” ucap Restan sambil meneteskan air mata.

Operasi Pangan Gratis
Restan (53) bersama sang cucu sehari-hari mengais beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur. (ACTNews)

ACTNews, JAKARTA – Tampak dari kejauhan tubuh renta seorang nenek menggandeng anak kecil di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur. Ia adalah Restan (53), seorang penyapu beras yang setiap hari mengais butir demi butir beras ditemani sang cucu yang baru beranjak masuk ke sekolah dasar.

Sasa Nabilah, itulah nama dari cucu Restan yang harus kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. “Ini habis sekolah, kan sekolahnya online. Emaknya udah meninggal pas dia umur 7 bulan dan bapaknya juga enggak pulang-pulang. Jadi sama saya aja di rumah tuh,” ungkap Restan, pada Selasa (24/8/2021).

Dalam usia senjanya, Restan harus menanggung beban jadi tulang punggung keluarga. Suami Restan tidak lagi bisa bekerja, ia telah lama mengidap penyakit ambeien yang cukup parah, namun urung dioperasi karena keterbatasan biaya.

Menanggung biaya kontrakan sebesar Rp700 ribu dalam sebulan dan beban tagihan token listrik yang harus dibayarkan, membuat Restan mau tidak mau berjuang menafkahi keluarganya lewat mengais beras di pasar seluas 14,5 hektare itu.

“Saya tulang punggung bener-bener, Demi Allah. Kemarin sampe enggak punya duit sama sekali. Makan ada nasi tapi enggak ada lauk, Ya kita biarin lah yang penting hidup kita sehat, saya minta sehat aja sama Allah,” ucap Restan sambil meneteskan air mata.

Menjadi penyapu beras telah Restan jalani semenjak sang cucu kehilangan kedua orang tuanya. Tidak jarang, keluarganya sangat kesulitan memperoleh makanan. “Cari beras dapat delapan liter, yang separuh saya jual buat beli lauk dan separuhnya buat masak. Kadang-kadang dapet 24 ribu sehari,” jelas Restan.

Di tengah keterbatasan ekonomi yang dimiliki, Restan selalu mengucap syukur dan berpegang pada prinsip untuk tidak mengambil hak milik orang lain. Ia pun berkeluh kesah atas kondisi pandemi Covid-19 yang masih terjadi. “Semoga jangan di lockdown mulu, semoga penyakit itu (Covid-19) cepat selesai deh. Mudah-mudahan ya, biar rakyat kayak kita enggak pada susah biar bisa kerja,” tutur Restan.

Sambil merangkul sang cucu, Restan mengungkapkan harapan dan doanya. “Biar hidupnya pada sukses aja, kalau saya enggak ada nanti biar pinter ngajinya. Biar pintar baca-baca ayat Al-Qur’an. Jadi anak yang solehah, mudah-mudahan ke depannya jangan susah kayak Neneknya. Mudah-mudahan Ya Allah, saya tiap hari doain dia,” harap Restan.

Kehadiran 600 porsi makanan siap santap dari Humanity Food Bus ACT dalam Operasi Makan Gratis di Pasar Induk Beras Cipinang pada siang itu, menjadi suatu keberkahan dalam diri Restan. “Saya dikasih ini bersyukur banget, beneran Pak. Alhamdulillah terima kasih banyak, mudah-mudahan biar sukses dan sehat semua panjang umur, biar selamat” ungkapnya.[]