Jaga Kandungan, Misbah Mengungsi Tanpa Suami

"Saya hanya bisa menangis di atas kapal menuju Makassar. Saya terpaksa meninggalkan suami di sana (Abepura) demi menyelamatkan calon bayi saya yang sudah berusia 6 bulan," jelas Misbah.

Jaga Kandungan, Misbah Mengungsi Tanpa Suami' photo
Misbah bercerita tentang kondisinya selepas melakukan perjalanan laut dari Jayapura ke Makassar. (ACTNews/Mustafa Mathar)

ACTNews, MAKASSAR - Sebuah kapal dari Jayapura bersandar di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Senin (1/10) subuh. Embusan udara dingin menyapa para penumpang yang turun dari kapal menuju terminal penumpang.

Misbah mengelus lembut perutnya, berharap janin di dalam rahimnya tidak terpengaruh kondisi psikisnya. Perjalanan dari Abepura, Jayapura, menuju Makassar cukup membuat ibu hamil tersebut kelelahan. Trauma juga mengiringi kedatangannya ke Makassar kala itu.

Misbah datang seorang diri. Sang suami masih memilih bertahan sembari berharap situasi akan mulai mereda dan kondusif. "Saya hanya bisa menangis di atas kapal menuju Makassar. Saya terpaksa meninggalkan suami di sana (Abepura) demi menyelamatkan calon bayi saya yang sudah berusia 6 bulan," jelas Misbah (36).

Saat disapa, Misbah membalas dengan senyum tipis sembari menyebutkan nama dan asal daerahnya. "Saya dari Bima (Sulawesi Tenggara)," jawabnya datar.

Tim relawan yang berada di posko mencoba menghibur. Obrolan mengalun, sesekali Misbah dan para relawan berguyon dan tertawa kecil. Mulai rileks, Misbah pun mencurahkan apa yang dikhawatirkannya. "Yang penting keluar dulu dari sana, ada anak saya di kampung yang menunggu penuh cemas," lirih Misbah.

Tanpa berpikir panjang, tim ACT Sulsel menyiapkan segala sesuatu untuk membantu kepulangan Misbah ke Bima, Sulawesi Tenggara. Ia lantas bergegas melanjutkan perjalanan dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar  menuju Bima di hari yang sama pada pukul 12.30 WITA. Ini adalah pengalaman pertama Misbah melakukan perjalanan menggunakan pesawat.

Insyaallah, ACT akan terus mengupayakan yang terbaik membantu memulangkan para penyintas konflik yang eksodus dari Wamena ke tanah kelahirannya masing-masing. []

Bagikan

Terpopuler