Jajakan Makanan, Rifaldi Bantu Ekonomi Keluarga

Setiap pintu rumah dia datangi. Ia menawarkan lauk hangat yang baru saja dimasak. “Bu lauk matangnya Bu,” kata Rifaldi. Namun tak jarang penolakan dia dapat. Ia tak langsung menyerah, ia kembali mengarah ke pintu lain.

bantu Rifaldi
Rifaldi tengah berjualan di sekitar lingkungan tempat tinggalnya di Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok (ACTNews/Rabbani)

ACTNews, DEPOK — Suara kokok ayam terdengar dengan jelas. Matahari mulai menampakkan cahayanya pagi itu. Cuitan burung silih berganti dari atas atap rumah. Udara masih sangat sejuk, bahkan dingin. Sekitar pukul 05.30 WIB seorang anak berusia 10 tahun dengan troli kecil berisikan lauk pauk keluar dari kontrakan. Hari itu ia  mengenakan baju batik, celana jeans pendek.

Wajahnya penuh semangat. Tidak ada rasa malu dalam dirinya. Tas selempang berwarna biru pudar ia kenakan di pundak. Ia berkeliling menjajakan lauk pauk dari pintu ke pintu.

Namanya Rifaldi. Setiap hari ia harus berjualan demi membantu ekonomi keluarga. Ia mesti berkeliling menjajakan dagangan sebelum berangkat ke sekolah. Habis tidak habis ia harus segera pulang, sebab banyaknya tugas sekolah yang harus ia kerjakan. Kini Rifaldi duduk di kelas 5 SDN Mekarjaya. 

Rifaldi tinggal berempat bersama nenek, kakek dan omnya di kontrakan sederhana di RT 07 RW 022 Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok. Ayah Rifaldi meninggal sebelum ia dilahirkan. Ia kemudian diasuh dan dibesarkan oleh nenek dan kakeknya. Ibunya pergi entah kemana.

Kakeknya sudah 10 tahun terbaring di kasur menderita strok. Neneknya yang bernama Iroh harus menemani sepanjang hari. Nenek Iroh sempat berjualan lauk pauk sebelum Rifaldi yang menggantikan. Namun Iroh sempat jatuh sakit dan tak bisa lagi berjualan. Sementara omnya juga masih remaja, berusia 14 tahun, yang juga membantu ekonomi keluarga dengan berjualan ketoprak.

“Rifaldi gantiin nenek jualan. Liat nenek sama kakek kasian. Pengen bantu nenek sama kakek. Cari uang dengan jualan lauk matang. Uangnya buat modal lagi, kalo ada lebihnya buat kebutuhan sehari hari,” kata Rifaldi dengan suara lirih.

Setiap pintu rumah dia datangi. Ia menawarkan lauk hangat yang baru saja dimasak. “Bu lauk matangnya Bu,” kata Rifaldi. Namun tak jarang penolakan dia dapat. Ia tak langsung menyerah, ia kembali mengarah ke pintu lain.

Jarak ia berjualan dari kontrakan menuju rumahnya cukup jauh. Sekitar satu kilometer ia mendorong troli memasuki komplek depan gang kontrakan. Keringat di pelipis perlahan turun. Baju batiknya basah hampir di sekujur tubuhnya.

Masa pandemi saat ini sungguh semakin berat mereka jalani. Mulai harga-harga bahan pokok yang melonjak. Akses jalan  perumahan yang di tutup, hingga sepinya pembeli.

Tak jarang lauk pauk yang ia jajakan ia bawa pulang kembali karena tak habis terjual. “Ini lauk yang dibawa suka enggak habis, nanti dibawa lagi ke rumah, dimakan sama aku, sama nenek sama kakek,” katanya.

Pukul 09.00 WIB Rifaldi tiba di rumah. Ia bergegas segera berangkat ke sekolah. Mungkin teman-teman yang lain belajar via aplikasi Zoom. Tidak dengan Rifaldi, ia tidak memiliki smartphone seperti teman-temannya. Ia pergi ke sekolah meminta tugas pada gurunya. Jika tugas telah selesai ia kerjakan, ia kembali ke sekolah mengumpulkan tugas-tugasnya.


Rifaldi tengah mengerjakan tugas sekolah yang diberikan guru (ACTNews/Rabbani)

“Nanti ke sekolah, atau enggak datang ke rumah guru, habis itu aku dapat tugas, nah biasanya hari Jumat aku kumpulin ke sekolah ketemu bapak ibu guru,” kata Rifaldi.

Tak jarang guru SDN Mekarjaya harus memaklumi kondisi Rifaldi saat ini. Meski ada smartphone, Rifaldi tidak mampu untuk membeli kuota. Kuota dirasa sangat mahal, apalagi kebutuhan hidup mereka lebih penting daripada kuota.

“Ada satu handphone, punya nenek. Handphone dipakai sama kita berempat. Handphonenya juga rusak, buat zoom juga enggak bisa,” kata Rifaldi.

Namun dibalik kesulitan yang ia rasakan. Ada cita-citanya yang sungguh sangat mulia. Bukan menjadi polisi, pilot bahkan dokter. Ia berharap suatu saat nanti, Rifaldi bisa menghajikan nenek dan kakeknya.

“Iya pengen nanti menghajikan nenek sama kakek, semoga mereka sehat terus,” ujar Rifaldi dengan muka polosnya.

Tak Cukup Penuhi Kebutuhan Sehari-hari

Dalam sekali jualan Rifaldi hanya mendapat untung sekitar 100 ribu saja jika dagangannya terjual habis. Uangnya digunakan untuk modal keesokan hari. Jika lauk tak habis otomatis pendapatan berkurang hari itu. Terkadang, omzet hanya kembali 50 ribu sehari.

“Iya kadang juga enggak habis kan, ya kita makan sendiri, kalo masih banyak ya kita kasihkan ke orang-orang yang butuh,” kata Iroh.

Pendapatannya setiap hari bahkan tak cukup untuk penuhi kebutuhan. Belum lagi biaya sewa kontrakan yang harganya 700 ribu setiap bulan. Tak jarang mereka menunggak dan bayar setengahnya.

“Iya saya sering nunggak, buat makan saja susah, belum obatin kakek Rifaldi, buat sehari-hari ya enggak cukup,” kata Iroh sambil meneteskan air mata.

Sejak tahun 2012, wanita paruh baya asal Serang ini sekeluarga tinggal di kontrakan tersebut. Mencari kesejahteraan di pinggiran kota Jakarta. Namun kesejahteraan belum juga ia rasakan sejak itu.[]