Jalan Berliku, Bawa Kurban untuk Pengungsi Sudan Selatan

Jalan Berliku, Bawa Kurban untuk Pengungsi Sudan Selatan

ACTNews, KHARTOUM, Sudan – Setahun sudah terlewat, tapi memori itu masih teringat. Tentang rumit dan bahaya sebuah perjalanan menuju area perbatasan antara Sudan dan Sudan Selatan. Awal September 2017, kala itu amanah sudah siap untuk diselesaikan. Bukan sembarang amanah, ada urusan untuk menuntaskan kurban di sebuah negeri bernama Sudan.

Lebih menantang lagi, distribusi kurban setahun lalu dimulai dari Sudan, lalu kemudian bergerak jauh ke selatan, jauh dari hingar bingar kota besar di Sudan. Distribusi diprioritaskan menyasar ke kamp-kamp pengungsian warga yang lari dari konflik di Sudan Selatan.

Dua negeri ini memang terpisah, berbeda nasib. Sudan dan Sudan Selatan. Tahun 2011, PBB resmi mengakui Sudan Selatan sebagai negara baru yang memisahkan diri dari Sudan. Namun, hanya berselang dua tahun saja pasca merdeka, Sudan Selatan pecah perang pada Desember 2013 sampai hari ini.

Konflik sipil membuat segala hal berubah menjadi krisis kemanusiaan di Sudan Selatan. Angka inflasi melonjak ratusan persen, ekonomi pun ambruk. Tiada pekerjaan, lalu kemiskinan melonjak luar biasa. Lebih buruk lagi, perkiraan korban jiwa karena perang di Sudan Selatan mencapai 50.000 – 300.000 tewas.

Dalam kondisi terdesak dan terpapar kemiskinan akut, jutaan jiwa warga sipil Sudan Selatan melarikan diri dari negerinya. Mengungsi di Uganda, atau memilih mengungsi di Sudan.

Kurban di Distrik Kosti, kamp pengungsian asal Sudan Selatan

Pekan pertama September 2017, Tim Global Qurban tiba di Sudan. Dari Khartoum ibu kota Sudan, tim bergerak jauh ke selatan menuju ke Distrik Kosti, tepatnya di sebuah Desa bernama Jabalain. Ustaz Lalu Agus Pujiartha, Koordinator Tim Global Qurban untuk Sudan mengatakan, populasi Muslim di Distrik Kosti mencapai 150.000 jiwa.

“Distrik Kosti sangat-sangat jauh dari keramaian. Berada di selatan dekat perbatasan antara Sudan dan Sudan Selatan. Mayoritas Muslim yang mengungsi di Kosti adalah mereka yang mengungsi dari wilayah Sudan Selatan. Mereka kehilangan keluarga, rumah, dan pekerjaan,” ujar Ustaz Lalu, September 2017 kemarin.

Ustaz Lalu menceritakan, mayoritas keluarga pengungsi asal Sudan Selatan di Kosti mengungsi dalam jumlah keluarga yang besar. Imbasnya, jumlah populasi warga di Kosti melonjak signifikan. “Sementara itu, warga asli Kosti pun hidup serba kekurangan. Jumlah fasilitas publik seperti sekolah, masjid dan lain-lain tak cukup untuk menampung sekian banyak populasi warga asli Kosti dan warga pengungsi pendatang dari Sudan Selatan,” ungkapnya.

Menggambarkan tentang situasi pelik di Distrik Kosti, Ustaz Lalu pun mengatakan, para pengungsi asal Sudan Selatan membangun tenda-tenda pengungsian mereka di tengah gurun di Kosti. “Sanitasi tidak layak, tidak ada makanan, tidak ada pekerjaan. Kami juga mendapat laporan tentang angka kriminalitas yang tinggi sekali. Karena semua di distrik ini dalam kondisi lapar,” ujar Ustaz Lalu.

Sampai di Distrik Kosti, kurban untuk Sudan dan Sudan Selatan setahun lalu total sebanyak 80 sapi amanah masyarakat Indonesia disembelih di Distrik Kosti dekat perbatasan. Selain itu, kurban juga disembelih di Distrik Bahri di pinggiran ibu kota Sudan, Khartoum.

Salah satu pengungsi Muslim asal Sudan Selatan Thoyyib Utsman Ibrohim, mengucap rasa syukurnya atas hadirnya Tim Global Qurban di Kosti. “Kami mengirimkan doa dan terima kasih atas kedatangan tim dari Indonesia. Terima kasih semua kurban ini bisa sampai ke Kosti. Semua sudah didistribusikan kepada yang paling berhak menerima. Untuk pengungsi, janda, yatim, dan orang-orang miskin. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan keberkahan serupa untuk Indonesia,” ucap Utsman Ibrohim kepada Tim Global Qurban.

Harapan lain muncul dari seorang lelaki di Khartoum. Ia mengharapkan agar Indonesia bisa ikut serta membangun masa depan Sudan bahkan juga masa depan pengungsi Sudan Selatan.

“Kami membayangkan di masa depan, kita dapat saling membantu sesama Muslim untuk membangun fasilitas sanitasi, pendidikan, menyediakan buku sekolah, dan guru yang profesional. Semoga akan ada pula Masjid Indonesia di sini. Agar semakin banyak yang merasa nyaman untuk berdoa dan beribadah 5 waktu,” kata Abdullah, seorang ulama yang tinggal di wilayah An-Nil Al-Abyad, Sudan. []

Tag

Belum ada tag sama sekali