Jalankan Dua Peran dalam Bertani, Cara Saidi Mendulang Nafkah

Keterbatasan lahan membuat Saidi (55) mesti mencari tambahan untuk menopang ekonominya. Untuk itu ia menjadi buruh tani. Bahkan baginya, penghasilan dari buruh tanilah yang utama, sementara penghasilan dari lahannya sendiri merupakan sampingan.

Saidi sedang menceritakan pengalamannya selama bertani. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, MALANG – Mendung sedari siang hari dan pada akhirnya baru saja menumpahkan air hujan selepas asar di Desa Pandanmulyo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang. Beberapa petani bergegas pulang dari lahan pada Senin (23/11) sore itu. Termasuk Saidi (55), menemui ACTNews yang tengah menunggu di rumahnya.

Saidi sehari-harinya menggarap dua lahan. Satunya adalah lahan milik orang lain, alias dia menjadi buruh tani. Satunya lagi adalah lahan miliknya sendiri yang ia tanami jagung dan sayur seluas 125 meter persegi. Tetapi pekerjaan utama bagi bapak 2 anak ini justru menjadi buruh, dan lahannya sendiri dia anggap sebagai sampingan.

“Punya lahan saat ini buat sampinganlah. Pokoknya tanami, selesai, saya keluar cari-cari penghasilan lain. Kalau ndak begitu kan, bagaimana ekonomi (sehari-hari) saya? Jadi suatu kali ada pemanenan, lahan saya sendiri utuh, buat celengan,” Saidi tersenyum lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang tak lagi utuh.

Menggarap sendirian tanah orang lain seluas 1.000 meter, Saidi digaji sebesar Rp35 ribu sehari. Kadang ia juga mengambil borongan memanen tebu saat musim panennya tiba. Meski begitu, Saidi mengaku tak merasa lelah. “Sendirian, tapi tidak pernah merasa capek. Apalagi pas gajiannya itu lancar, ya saya semangat,” Saidi kembali tertawa.


Sementara untuk lahannya sendiri, Saidi selalu menunggu panen selama 3 bulan sekali. Hasil panennya pun belum dapat mencapai jumlah ton. “Ndak sampai ton, (hanya) kuintal. Paling tinggi itu (pernah) 5 kuintal. Itu paling tinggi. Jualnya sekilonya Rp5 ribu. Panennya segitu, tanahnya kecil. Kepingin tanami yang lebih banyak, tapi persoalannya lahannya kan kecil,” ujar Saidi.

Global Wakaf – ACT berikhtiar menyelesaikan persoalan para petani ini melalui program Wakaf Modal Usaha Mikro dan Masyarakat Produsen Pangan Indonesia. “Jika para petani seperti Pak Saidi mendapatkan bantuan, harapan kita bisa membantu dari sarana produksi taninya. Sehingga dengan biaya produksi yang lebih kecil karena bantuan dermawan, mereka bisa mendapatkan hasil yang maksimal," jelas Iqrok Wahyu Perdana dari Tim Global Wakaf – ACT Malang.

Iqrok juga berharap ke depannya, masyarakat dapat ikut berkolaborasi dalam penyaluran bantuan ini. “Kami berharap dukungan dari para dermawan sekalian, sehingga lebih banyak lagi bantuan yang nantinya kita luaskan untuk para petani di wilayah Malang,” ajak Iqrok. []