Jarak Jauh Rauda Mencapai Sekolah

Dari rumah ke sekolah, jarak terdekat yang bisa Rauda tempuh ialah 3 kilometer dengan berjalan kaki dan menyeberangi daerah muara. Jika air pasang, guru SD Impres Wae Cepang, Manggarai ini terpaksa lewat jalan utama yang jaraknya lebih jauh, yaitu 5 kilometer jalan kaki.

Sepeda tepian negeri
Rauda sedang menuntun sepeda barunya yang ACT serah terimakan pada akhir Februari lalu. (ACTNews)

ACTNews, MANGGARAI – Sudah tujuh tahun Rauda, seorang guru yang tinggal di Benteng, Desa Terong, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai mengabdi di SD Impres Wae Cepang. Ia merupakan guru honorer. Dari profesinya, Rauda mendapat gaji lebih kurang Rp300 ribu yang dirapel per tiga bulan. Uang itu memang tak jadi tujuan utama Rauda mengajar, akan tetapi, bisa ia manfaatkan untuk menopang kehidupan keluarganya.

Setiap mengajar, guru Pendidikan Agama Islam sekaligus wali kelas tersebut harus menempuh jarak 3 kilometer dari rumah menuju sekolah. Jarak tersebut merupakan yang terdekat. Namun, medan yang harus dilalui berupa wilayah muara yang sering mengalami naik dan surut air laut. Jika surut, Rauda bisa melintasinya dengan mudah dengan berjalan kaki, sedangkan saat air naik ia harus meminjam sampan dayung milik nelayan setempat.

“Kalau nelayannya sedang ke laut, harus lewat jalur umum, jaraknya dari rumah ke sekolah jadi 5 kilometer,” tutur alumni Universitas Khatolik Santo Paulus Ruteng ini, Kamis (25/2/2021).

Di jalur umum, tersedia ojek yang siap mengantar Rauda dengan biaya Rp10 ribu. Akan tetapi, ibu dua anak ini memilih tetap berjalan kaki karena ia mempertimbangkan keadaan ekonominya yang masih prasejahtera. Dalam sebulan, hanya tiga atau empat kali saja Rauda menggunakan jasa ojek untuk mengantarnya pulan-pergi ke sekolah.

Selain mengajar di SD Impres Wae Cepang, Rauda juga menggelar pengajian untuk anak-anak di rumahnya di Kampung Benteng. Muridnya berjumlah belasan orang dengan jadwal mengaji selepas magrib hingga selesai salat isya. Kelas mengaji sengaja perempuan kelahiran 6 Juli 1989 ini buka agar anak-anak di sekitar tempat tinggalnya bisa lebih mengenal Islam.

Bantuan sepeda

Akhir Februari lalu, Aksi Cepat Tanggap (ACT) berkesempatan bertemu denga Rauda untuk menyambung silaturahmi sekaligus menyerahkan bantuan sepeda. Alat transportasi ini bisa Rauda manfaatkan untuk mempercepat dan memudahkannya mencapai dan pulang dari sekolah. Selai Rauda, sepeda tersebut juga diserahkan untuk guru-guru honorer lain di wilayah tepian negeri yang ekonominya masih prasejahtera.

“Akan lebih banyak lagi bantuan serupa untuk mendukung perjuangan guru-guru kita di pelosok negeri. Ini merupakan wujud nyata sedekah masyarakat,” jelas Bobby Sandra dari tim Tepian Negeri ACT, Rabu (3/3/2021).[]