Jaringan Sekolah Islam Terpadu Jawa Barat Peduli Rohingya

Jaringan Sekolah Islam Terpadu Jawa Barat Peduli Rohingya

ACTNews, JAKARTA – Simpati dan empati terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi pada etnis muslim Rohingya terus mengalir. Seluruh elemen masyarakat tak pernah berhenti menyuarakan kepeduliannya melalui berbagai cara. Aksi kreatif menyuarakan kemanusiana sudah dimulai dengan aksi turun ke jalan, aksi pergelaran seni seperti puisi, teatrikal, aksi charity atau penggalangan donasi dan aksi lainnya.

Kepedulian tersebut juga terus ‘menggema’ di lingkungan sekolah atau di dunia pendidikan. Berbagai sekolah bersinergi dengan menggalang donasi dan mempercayakan donasinya disalurkan melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk etnis muslim Rohingya.

Salah satu mitra ACT dalam misi kemanusiaan untuk muslim Rohingya ini adalah Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Jawa Barat. Senin (18/12), perwakilan dari JSIT Jawa Barat singgah sejenak, bersilaturahmi ke Kantor ACT Pusat di Menara 165, Cilandak – Jakarta Selatan. Kunjungan perwakilan JSIT Jawa Barat ini pun sekalian dengan menyerahkan donasinya sejumlah Rp.257.794.481,- kepada ACT. Seluruh donasi diamanahkan untuk etnis muslim Rohingya.  

Siti Masturoh (32), perwakilan dari JSIT Jawa Barat mengungkapkan donasi ini terkumpul hasil dari penggalangan yang dilakukan para siswa dan guru JSIT, di 60 Sekolah Islam Terpadu di Jawa Barat. 

“Penggalangan ini dilakukan seminggu sebelum even Perkemahan Wilayah (Kemwil) Jawa Barat. Kami instruksikan seluruh sekolah JSIT untuk melakukan penggalangan dana, bahkan pada saat konser amal di momen Kemah Wilayah pun kami galang,” jelasnya.   

Masturoh menambahkan puncak penggalangan donasi dilakukan pada momen konser Kemah Wilayah yang digelar di Cibubur di hari terakhir perkemahan. Perkemahan tersebut digelar selama empat hari, Kamis – Minggu, 16-19 November 2017 lalu. Perkemahan Wilayah ini merupakan even perdana yang digelar JSIT, sesuai rencana nantinya akan terus dilanjutkan sesudah rapat wilayah digelar.

Ditilik dari sejarahnya, JSIT berdiri sejak tahun 2013 (14 tahun silam). Berasal dari tumbuhnya Sekolah Islam Terpadu yang sudah terintegrasi dan ada nomer registrasinya. Sementara itu, JSIT Jawa Barat membawahi seluruh Sekolah Islam Terpadu dari tingkat TK hingga tingkat SMA di seluruh Jawa Barat. Untuk berbagai misi kemanusiaan, JSIT Jawa Barat berkomitmen terus menjalin kolaborasi kemanusiaan dengan ACT.   

“Aksi penggalangan ini adalah bentuk kepedulian kami terhadap saudara kami etnis muslim Rohingya yang menderita dan tertindas, apalagi salah satu program ACT adalah untuk pembangunan sekolah anak Rohingya,” tuturnya.  

JSIT Jawa Barat memilih menyalurkan donasinya melalui ACT. Alasannya, karena mereka begitu percaya dengan kiprah ACT selama menjaga kehidupan dan hak-hak orang Rohingya, baik selama di Myanmar maupun semasa menjadi pengungsi di Bangladesh, seperti yang hari ini masih terjadi. Menutur Masturoh, ACT dinilai berkompeten dalam mengimplementasikan bantuan kemanusiaan di kamp-kamp pengungsian Rohingya. 

“Kami yakin bantuan ini akan diterima untuk saudara kami di sana (etnis muslim Rohingya-red) dengan tepat sasaran. Karena kami melihat pengalaman ACT dalam penanganan misi kemanusiaan untuk muslim Rohingya begitu teruji, makanya kami tak ragu,” tegasnya

Sekilas tentang Sekolah Islam Terpadu  

Sekolah Islam Terpadu (SIT) pada hakekatnya adalah sekolah yang mengimplementasikan konsep pendidikan Islam berlandaskan Al Qur’an dan As Sunnah. Konsep operasional SIT merupakan akumulasi dari proses pembudayaan, pewarisan dan pengembangan ajaran agama Islam, budaya dan peradaban Islam dari generasi ke generasi.

Istilah “Terpadu” dalam SIT dimaksudkan sebagai penguat dari Islam itu sendiri. Maksudnya adalah Islam yang utuh menyeluruh, Integral, bukan parsial, syumuliah bukan juz’iyah. Hal ini menjadi semangat utama dalam gerak dakwah dibidang pendidikan ini sebagai “perlawanan” terhadap pemahaman sekuler, dikotomi, juz’iyah.

Dalam aplikasinya SIT diartikan sebagai sekolah yang menerapkan pendekatan penyelenggaraan dengan memadukan pendidikan umum dan pendidikan agama menjadi satu jalinan kurikulum. Dengan pendekatan ini, semua mata pelajaran dan semua kegiatan sekolah tidak lepas dari bingkai ajaran dan pesan nilai Islam.

Tidak ada dikotomi, tidak ada keterpisahan, tidak ada “sekularisasi” dimana pelajaran dan semua bahasan lepas dari nilai dan ajaran Islam, ataupun “sakralisasi” dimana Islam diajarkan terlepas dari konteks kemaslahatan kehidupan masa kini dan masa depan.

Pelajaran umum, seperti matematika, IPA,IPS, bahasa, jasmani/kesehatan, keterampilan dibingkai dengan pijakan, pedoman dan panduan Islam. Sementara dipelajaran agama, kurikulum diperkaya dengan pendekatan konteks kekinian dan kemanfaatan, dan kemaslahatan.[]

Tag

Belum ada tag sama sekali