Jariyanto, Petani Muda yang Ingin Punya Tabungan

Jariyanto (26) yang berprofesi sebagai petani, kini berusaha juga di sektor hilir pangan dengan membuat keripik singkong. Sebab, penghasilan petani saja belum mencukupi baginya.

Jariyanto petani di Blora.
Kondisi rumah Jariyanto. (ACTNews)

ACTNews, BLORA – Dengan kalimat basmalah, Jariyanto (26) keluar dari rumahnya setelah berpamitan pada istri dan anaknya. Petani muda asal Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora ini mesti bergerak menuju sawahnya untuk bekerja pada Selasa (23/2/2021) itu.

Jariyanto merupakan seorang pahlawan pangan yang sudah bertani sejak empat tahun lalu. Ia memiliki lahan yang digarap sendiri dengan luasan 5.000 meter persegi. Modal bertani yang ia butuhkan biasanya berkisar Rp2 juta dan hasil yang beliau dapat saat panen Rp 3 juta. Sementara biaya hidup keluarga ia perkirakan sekitar Rp1,5 juta sehingga bisa dibilang belum mencukupi kebutuhan keluarganya.

Sebagai jalan untuk melengkapi kekurangan itu, Jariyanto beserta istri memulai usaha keripik singkong. “Kalau saya enggak mulai, hidup terasa sesak karena penghasilan dari bertani hanya ada satu kali, saat panen tiba. Hasil panen pun kadang tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup bulan-bulan yang akan dilalui setelahnya (pascapanen). Alhamdulillah kalau bisa balik modal, kadang ada saja gagal panennya,” cerita Jariyanto terkait alasannya memulai usaha keripik singkong.


Terik matahari mulai menyinari di atas kepala. Tim Global Wakaf – ACT diajak mendengarkan kembali ceritanya sambil mengikuti langkah kaki Jariyanto kembali ke rumah setelah mengolah lahan sawahnya. Dinding rumah itu terbuat dari kayu dan tak beralaskan ubin. Bahkan dipan untuk tidur hanya beralaskan kasur yang sudah terlihat lusuh.

“Ini saya hidup sudah berpelukan dengan pangan, Mas. Jika bertani, saya sebagai produsen pangan. Jika menjual keripik singkong, saya sebagai pengolah hasil pangan. Meski hasil enggak seberapa, lihat istri dan anak bahagia, insyaallah saya juga ikut bahagia. Kadang ingin juga punya tabungan dari hasil bertani dan berjualan, tapi kondisi belum memungkinkan,” Jariyanto menutup kisahnya saat tiba di rumah.


Wahyu Nur Alim dari Tim Global Wakaf – ACT yang berada di lokasi, berharap dapat membantu para petani seperti Jariyanto. Ia pun berharap para dermawan dapat ikut dalam ikhtiar menyejahterakan petani ini.

“Para dermawan, mari titipkan rejekimu untuk kembali menyemangati pahlawan pangan seperti Pak Jariyanto untuk tetap memiliki harapan punya tabungan dari hasil mengolah lahannya. Semoga ke depannya kita dapat membersamai Pak Jariyanto dan petani-petani lainnya di Indonesia melalui program Wakaf Sawah Produktif,” ujar Wahyu.

Wakaf Sawah Produktif juga saat ini menjadi salah satu motor dari Gerakan Sedekah Pangan Nasional, yang bertujuan membentuk kedaulatan pangan negeri. Wakaf Sawah Produktif adalah hulu dari gerakan ini. Sehingga, selain memberdayakan petani sebagai produsen pangan, hasilnya juga dapat bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. []