Jasa Mendiang dr. Soeko untuk Warga Tolikara dan Wamena

Dr. Soeko Marsetiyo wafat setelah lima belas tahun mengabdi untuk warga Papua. Almarhum menjadi sasaran konflik ketika sedang bertugas mengambil obat-obatan dari Tolikara menuju Wamena.

Jasa Mendiang dr. Soeko untuk Warga Tolikara dan Wamena' photo
Tim ACT Jawa Tengah bersilaturahmi ke kediaman keluarga almarhum dr. Soeko Marsettiyo untuk menyampaikan belasungkawa dan penghargaan kemanusiaan untuk almarhum. (ACTNews/Dananto Riski)

ACTNews, SEMARANG - Lima belas tahun lamanya dr. Soeko Marsetiyo mengabdi di timur Indonesia atas dasar kemanusiaan. Kini, masa pengabdian itu telah usai, seiring wafatnya dokter asal Semarang tersebut. Dr. Soeko merupakan satu dari puluhan korban jiwa dari tragedi kemanusiaan di Wamena, Rabu (25/9) lalu.

Pada Selasa (2/10) malam, tim Aksi Cepat Tanggap Jawa Tengah (ACT Jateng) takziah ke kediaman keluarga dr. Soeko di Tembalang, Semarang. Selain takziah, tim juga memberikan piagam penghargaan kepada mendiang dr. Soeko atas pengabdiannya dalam memberikan layanan kesehatan di pelosok negeri.

Dr. Soeko secara reguler bertugas di Kabupaten Tolikara. Namun setiap dua atau tiga hari sekali, ia menjalankan tugas di Wamena. Istri dr. Soeko, Ani, mengungkapkan bahwa suaminya menempuh perjalanan selama tiga jam dari Tolikara ke Wamena untuk memberikan layanan kesehatan. 

"Perjalanan itu ditempuh dengan melewati hutan-hutan dan memang itu satu-satunya jalan yang tersedia. Ketika konflik terjadi, suami saya dihadang dan tidak bisa berbelok kemana pun. Lalu peristiwa tidak manusiawi pun terjadi," papar Ani dengan isak tangis mengenang peristiwa nahas itu.

Awalnya, Ani mendengar berita simpang siur tentang tragedi yang melanda Wamena sampai pihak berwenang memberi kabar duka. "Rabu sore, saya mendapat kabar melalui kakak ipar. Inalillahi wainnailaihi rajiun, suami saya dikabarkan menjadi sasaran konflik ketika sedang bertugas mengambil logistik dan obat-obatan dalam perjalanan dari Tolikara menuju Wamena," ungkap Ani (2/10).

Penghargaan kemanusiaan untuk almarhum dr. Soeko Marsetiyo dari ACT Jawa Tengah. (ACTNews/Dananto Riski)

Sosok dr. Soeko di mata keluarga

Sosok almarhum di mata keluarganya adalah seorang ayah yang memiliki jiwa kemanusiaan, bertanggung jawab, penyayang, dan religius. Lima belas tahun lalu, dr. Soeko memutuskan untuk mengabdikan diri menjadi dokter dengan mengikuti program pemerintah di Papua. 

Ani mengenang bagaimana mendiang suaminya begitu tergerak untuk bertugas di pelosok negeri. “Kalau hanya materi yang dikejar, tentu tidak perlu jauh-jauh ke Papua. Beliau dulu sebenarnya sudah mendapatkan izin buka praktik di Semarang. Namun, beliau ingin bermanfaat lebih kepada sesama, maka Papua tetap menjadi pilihannya,” ungap Ani.

Lima belas tahun mengabdi dan membaur dengan masyarakat Tolikara dan Wamena membuat dr. Soeko dicintai warga sekitar. Menurut anak pertama almarhum dr. Soeko, Afina Mirra Astuti, masyarakat Tolikara amat mengandalkan dr. Soeko untuk kebutuhan medis mereka. Hal ini menjadi salah satu alasan dr. Soeko cinta dan totalitas mengabdikan diri, sehingga jarang juga pulang ke Semarang. 

“Papa orang yang hebat, tulus, bisa mengabdi kepada masyarakat tanpa mengharap apapun. Saya harus tiru jiwa ketulusan dan keikhlasannya. Kita juga jarang ketemu, kangen Papa,” papar Afina dalam isak tangisnya.

Komunikasi dengan keluarga biasa dilakukan dengan SMS karena akses internet yang buruk di tempat almarhum bekerja. Ani menambahkan, dr. Soeko kerap memberikan semangat untuk keluarganya serta mengirimkan potongan ayat Alquran melalui pesan singkat. “Beliau sering mengingatkan saya dan anak-anak, bahwa kelak di akhir zaman, Allah akan melenyapkan seluruh Alquran di muka bumi. Maka ayo segera, mumpung masih sempat kita jangan sia-siakan waktu, pelajari dan baca Alquran,” kenang Ani.


Tim ACT Jateng bersilaturahmi ke kediaman keluarga almarhum dr. Soeko Marsetiyo. (ACTNews/Dananto Riski)

Ani berusaha ikhlas dan tegar dalam suasana duka mendalam. Ia banyak berpesan untuk para keluarga korban lainnya agar tetap semangat menjalani hidup. “Kami prihatin dengan satu kondisi seperti ini, tapi kami yakin dalam kondisi apapun akan selalu ada kebaikan di belakangnya. Jadi, tetaplah bersyukur karena Allah tidak akan pernah berbuat aniaya kepada hamba-Nya yang selalu bersyukur meskipun kita dalam kondisi sangat susah sekalipun,” ungkap Ani. 

Selain semangat untuk keluarga korban yang ditinggalkan, Ani juga mengapresiasi peran ACT di Wamena. “Untuk teman-teman lembaga kemanusiaan yang ada di sana, perjuangan kalian tidak sia-sia, tidak bisa diapresiasi di dunia saja. Itu kebahagian dunia dan akhirat karena menolong sesama,” imbuh Ani

Dalam silahturahmi tersebut, Sri Suroto selaku Kepala Cabang ACT Jateng menyampaikan bela sungkawanya kepada keluarga terdampak tragedi kemanusiaan Wamena. “ACT dan segenap Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) ikut merasakan duka mendalam atas kehilangan sosok pahlawan kemanusiaan yang mengabdikan diri untuk negeri tercinta. Semoga Allah Ta'ala meridai segala ikhtiar almarhum. Semoga kita juga mampu terus melanjutkan perjuangan dr. Soeko dalam memberikan yang terbaik bagi saudara sebangsa di Wamena,” tutur Suroto.

Masih diselimuti duka, Ani memberikan pesan untuk para pejuang kemanusiaan. “Tetaplah sambung perjuangan ayah dari kedua anak saya ini, terus menyemangati saudara yang ada disana. Teruslah berjuang karena pasti Allah akan membalasnya dengan yang lebih dan lebih. Kedatangan teman-teman di sini mampu mengobati rasa kangen saya kepada almarhum. Ternyata tidak hanya almarhum saja yang memiliki jiwa rasa tulus menolong sesama, tetap semangat teman-teman ACT!” pungkasnya. []

Bagikan

Terpopuler