Jelang Musim Dingin, Suhu Beku Siap Teror Pengungsi Suriah

Jelang Musim Dingin, Suhu Beku Siap Teror Pengungsi Suriah

Jelang Musim Dingin, Suhu Beku Siap Teror Pengungsi Suriah' photo

ACTNews, ALEPPO – November telah tiba. Tidak lama lagi, musim dingin akan menyapa wilayah bumi Syam. Suhu mulai menurun secara perlahan, saat ini suhu telah di bawah 10 derajat Celsius. Dapat dipastikan, suhu minus akan segera membelenggu Suriah, memaksa seluruh pengungsi untuk bertahan hidup di dalam tenda-tenda terpal yang jauh dari kata layak.

Tidak ada satu jiwa pun yang menginginkan getirnya musim dingin di Suriah, terutama setelah perang sipil yang pecah pada 2011 silam. Ketika memasuki puncak musim dingin, sepanjang Desember hingga Januari, suhu akan turun drastis di antara 0°C sampai -20°C.

Perjuangan melawan musim dingin di beberapa kamp pengungsian terasa begitu berat bagi para pengungsi. Dalam kondisi yang serba keterbatasan, hunian yang tak mampu menangkal dingin yang menusuk tulang, sementara perut menahan lapar.

November tahun lalu jauh lebih parah, hujan salju dan kendaraan yang reyot memperlambat evakuasi ribuan warga sipil dari tanah Aleppo karena rezim Suriah telah berdiri untuk mengendalikan kota tersebut. Sementara sekitar 275.000 penduduk sipil masih terjebak di Aleppo. Banyak di antaranya yang terluka akibat pemboman yang dilakukan terus menerus dalam 10 hari terakhir.

Di tengah bekunya musim dingin, mereka, para penduduk sipil tak berdosa harus menghadapi kelaparan hingga kematian selama kurang lebih 10 hari akibat kehabisan pasokan bantuan.

"Anda tidak bisa membayangkan bagaimana situasinya," ujar Raed al-Saleh, Kepala Pertahanan Sipil Suriah.

Saleh menambahkan, dokter dan pekerja penyelamat di Aleppo hanya menggunakan peralatan yang tersisa setelah pemboman melakukan apa pun yang bisa mereka lakukan. Begitu kurangnya persediaan sehingga membuat para dokter harus keputusan hidup dan mati untuk siapa yang berhak mendapat operasi.

"Semua rumah sakit di kota ini tidak beroperasi, sementara bantuan medis yang tersedia begitu terbatas. Tim medis tidak bisa menerima semua orang. Tidak cukupnya bahan dan tidak cukup dokter, sementara persediaan alat pertolongan pertama telah habis. Situasi semakin memburuk setiap hari, persediaan makanan menipis, semua toko tutup, beberapa orang menjual Sayuran yang mereka tanam di kebun mereka. Makanan lainnya sudah tidak tersedia lagi," lirih Saleh.

Keluar dari Aleppo tak serta merta membuat segalanya menjadi lebih baik. Hidup sebagai pengungsi, tak menjadikan kehidupan kembali seperti semula. Bahkan justru menimbulkan masalah kemanusiaan baru, terutama karena musim dingin Suriah begitu keras. Januari lalu, belasan pengungsi Suriah meninggal karena kombinasi fatal antara tempat penampungan dan cuaca yang tidak memadai.

Sementara di Reyhanli, kota di Turki yang berbatasan langsung dengan Aleppo dan Idlib, saat ini ratusan ribu pengungsi Suriah tengah bersiap menghadapi musim dingin. Suhu 10 derajat Celsius mulai menyapa mereka tiap malamnya, mencoba masuk dari balik terpal yang melapisi tenda pengungsian mereka.

Tahun ini, mereka berharap bisa siap untuk apapun. Namun, tanpa penghasilan dan tabungan yang cukup, bayangan akan terulangnya kondisi buruk tahun lalu kerap hadir. Meringkuk dalam tenda yang lembab dan minim makanan, akankah tahun ini seperti itu lagi? []

Tag

Belum ada tag sama sekali

Bagikan