Jerat Utang Nelayan Paciran

Hasil melaut diekspor ke berbagai negara tak menjamin nelayan di Paciran, Lamongan sejahtera kehidupannya. Selama ini, mereka harus hidup dalam keterbatasan ekonomi di tengah tingginya harga hasil laut di pasar internasional. Keterikatan dengan tengkulak karena utang menjadi alasannya.

Perahu yang bersandar di Pantai Paciran, Lamongan. Tak banyak nelayan yang melaut di Agustus ini mengingat cuaca sedang tidak bersahabat. (ACTNews)

ACTNews, LAMONGAN Dikenal sebagai kota nelayan, wilayah pesisir Lamongan mampu menghasilkan hasil laut yang seharusnya bisa menyejahterakan nelayan. Ada lebih dari 20 ribu nelayan menggantungkan rezeki dari laut di Lamongan. Tongkol, gembung, teri, rajungan, cumi, udang, layur hingga tenggiri menjadi tangkapan yang sering nelayan di Pesisir Paciran, Lamongan dapat. Hasil laut tersebut bahkan diekspor hingga ke berbagai negara di Asia bahkan Amerika.

Sayang, ketenaran hasil laut Paciran ternyata tak mampu menyejahterakan nelayannya. Nilai ekspor yang tinggi tak sepenuhnya masuk ke kantong-kantong nelayan. Melainkan, ke para tengkulak yang menguasai pasar serta modal nelayan yang mendapatkan untung besar. Sedangkan, mereka yang menangkap langsung hanya bisa melepas hasil laut dengan harga murah ke tengkulak dengan berbagai alasan.

“Ada keterikatan nelayan dengan tengkulak karena meminjam modal melaut. Makanya, kami hanya dapat uang dikit dari hasil melaut. Mungkin lebih dari 90 persen nelayan di sini berutang,” tutur Fendi, salah satu nelayan Paciran yang ditemui tim Global Wakaf - ACT pada Kamis (27/8).

Di tahun 2020 ini, bagi nelayan Paciran seakan menjadi tahun yang cukup berat. Selain karena hasil laut yang selama ini dihargai rendah oleh tengkulak, dampak pandemi Covid-19 juga sangat mereka rasakan. Sepi pembeli menjadi kenyataan yang harus diterima. Tak sampai di situ, menjelang akhir tahun 2020, cuaca juga sedang tidak bersahabat. Akibatnya, hasil laut yang sudah dihargai murah itu pun tidak maksimal didapat.


Jerat kemiskinan

Muflichun (48) yang juga nelayan di Paciran menuturkan, kehidupan nelayan di sana dalam keadaan prasejahtera. Walau harga ekspor tinggi, untung yang didapat nelayan sangat rendah. Di tengah rendahnya pendapatan, nelayan juga mempunyai tanggungan utang dari tengkulak atau rentenir dengan bunga yang cukup tinggi. Akibat utang itu, nelayan memiliki keterikan menjual hasil lautnya ke tengkulak serta harus membayar utang. Sedangkan untuk menghidupi keluarga, nelayan Paciran harus memutar otaknya, tak jarang mereka menjual atau menggadaikan harta benda demi memenuhi urusan pangan dan pendidikan anak.

“Sekarang ada pandemi gini ya sangat kerasa banget makin besar biaya hidup. Pendapatan dari laut enggak maksimal. Belum lagi biaya untuk anak sekolah yang bertambah karena ada kuota internet,” jelas Muflichun sambil menahan air matanya.

Saat ini, bagi Fendi, Muflichun, serta nelayan Paciran lainnya, akses permodalan tanpa bunga serta pendampingan untuk bisa menjual sendiri hasil lautnya ke pasar internasional menjadi yang paling diharapkan. Modal tanpa pengembalian dengan bunga pun yang paling ditunggu karena selama ini bunga serta keterikatan untuk menjual hasil laut yang “menyiksa” nelayan Paciran.[]