Joni Kusumahadi: Nikmatnya Berwakaf Sulit Diungkapkan dengan Kata-Kata

Berbekal kedermawanan yang dipupuk sejak kecil, Joni Kusumahadi yang berprofesi sebagai koki mewakafkan sebagian saham restorannya untuk mereka yang membutuhkan. Joni kehabisan kata-kata dalam mendeskripsikan nikmat berwakaf. Baginya pengalaman bahagia melihat senyum dari mereka yang membutuhkan, hanya dapat ia rasakan sendiri.

Joni sedang memasak di salah satu dapurnya pada Kamis (7/5) lalu. (ACTNews/Reza Mardhani)

ACTNews, JAKARTA – Joni memperlihatkan dapur tempat ketiga anak buahnya bekerja. Aroma sambal terasi yang sedang dibuat menyeruak, sementara di sampingnya puluhan ayam goreng matang kecokelatan, dan satu orang lagi sibuk memotong serai dan lengkuas untuk tambahan bumbu. Puluhan nasi putih hangat menunggu lauk-pauk itu di kotak. Paket makanan ini nantinya akan dibagikan kepada anak-anak yatim di wilayah Tangerang.

“Sebelumnya donasi ini juga sudah berjalan di tempat lain, dan aksinya atas nama saya pribadi. Pandemi sekarang ini kan bikin orang sulit cari makan, jadi ketika kita bisa meringankan kesulitan mereka terus lihat mereka senyum. Itu kebahagiaan tersendiri buat saya,” jelas Joni Kusumahadi pada Kamis (7/5) lalu di salah satu dapur yang ia miliki di Lantai 4, Menara 165, Jakarta Selatan.

Koki yang juga aktif di Humanity Food Truck dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) ini berhasil mewujudkan niatnya untuk berbagi dengan mewakafkan sebagian saham usaha kulinernya lewat Global Wakaf - ACT pada Februari lalu. Ketika ditanya mengenai perasaannya ketika berwakaf, ia terlihat semringah sekaligus bingung karena sulit baginya mengambarkan seperti apa rasa senang yang ia alami.

Kalau secara kata-kata, hampir tidak bisa diceritakan memang (hanya) hati yang bisa merasakan sendiri. Intinya bahwa saya pribadi merasakan perasaan yang luar biasa senang dengan berwakaf. Karena dengan berwakaf itu bisa membantu banyak orang,” tutur Joni.

Selain kebahagiaan yang ia dapat, secara materi pun ia selalu merasa dicukupi oleh Allah. Alih-alih rezekinya terasa berkurang, ia mengaku setelah berwakaf justru rezeki itu malah bertambah.


Kesibukan di salah satu dapur milik Joni yang akan menyediakan makanan untuk anak yatim. (ACTNews/Reza Mardhani)

“Setelah kami mewakafkan saham dari perusahaan kami, di situ justru rezeki yang kita wakafkan itu bukan hilang. Jadi alhamdulillah sekali, dengan wakaf kita bukan malah miskin, tapi rezeki malah berdatangan. Itulah pengalaman yang sampai sekarang terasa dalam hati saya,” cerita Joni.

Jiwa kedermawanan itu tertempa berkat pengalaman masa lalu. Saat itu orang tuanya yang pertama mengajarkan untuk berbagi lewat bisnis. Semenjak empat orang di keluarganya mesti melanjutkan kuliah, gaji ayahnya yang merupakan pegawai negeri, menurutnya tidak cukup untuk membiayai keperluan ini. Mulailah mereka membuka usaha pertanian di kampungnya agar bisa membiayai kuliah.

Kebetulan juga di sekitar tempat ia tinggal ada beberapa pondok pesantren. Melihat bahwa beberapa pondok pesantren ini memiliki kebutuhan pangan yang cukup banyak untuk dipenuhi, keluarga Joni memutuskan untuk memberikan juga sebagian hasil panen mereka.

“Akhirnya kami dengan ikhlas lahir batin, menyedekahkan hasil pertanian itu kepada pondok-pondok di sekitar tempat kami. Mulai dari situlah terbangun bahwa ternyata orang tua saya mendidik saya untuk menjadi seorang dermawan,” kata Joni. Ia pun bertekad untuk memiliki usaha sendiri suatu kali nanti agar bisa membagi hasilnya dengan orang banyak.

Berbekal pengalaman 20 tahun bekerja di dunia kuliner, keinginan tersebut tercapai. Sekitar 6 tahun lalu ia memutuskan berhenti bekerja dan mulai membuka lapangan pekerjaan sendiri. Berbagai usaha digelutinya mulai dari toko roti, katering, dan  restoran.

Telah merasakan nikmat berwakaf sebelumnya, ke depannya Joni berencana membuka lagi satu usaha baru yang bergerak di bidang kuliner. Dan masih memegang pedoman yang sama, ketika usaha itu berdiri ia akan mewakafkan sebagian sahamnya lagi agar keuntungannya bisa dimanfaatkan orang banyak.

“Semoga dalam beberapa bulan ke depan, saya mendirikan usaha baru lagi. Dan insyaallah, 50% sahamnya akan kita wakafkan kembali. Masih dalam bidang kuliner karena bidang saya di kuliner dan bisnis-bisnis yang mendekati,” harap Joni. []