Jual Serabi, Usaha Ecih Rawat Mimi

Kasih sayang antara kakak beradik ini terjalin hingga lanjut usia. Ecih (50) terus berjuang demi Mimi (47), adik kandungnya yang memiliki kebutuhan khusus. Setiap hari, Ecih berjualan serabi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

wakaf umkm kabupaten serang
Ecih sendiri yang kini memenuhi berbagai kebutuhan Mimi. (ACTNews)

ACTNews, KABUPATEN SERANG – Ecih (50) terkadang hanya bisa menangis melihat Mimi (47). Sekali waktu, untuk menyembunyikan kepiluan hatinya, Ecih membalikkan badan dari hadapan adiknya.

Ecih tidak tahu pasti apa yang terjadi pada Mimi. Sejak kecil, keluarganya tidak pernah melakukan pemeriksaan medis terhadap Mimi. Ecih hanya tau, Mimi berbeda dengan kebanyakan orang dewasa lain. Adiknya itu berkebutuhan khusus. Ia tidak mampu memenuhi keperluan hidupnya sendiri.

Mimi hanya bisa terbaring di rumah. Sebab itu, sebagai kakak, Ecih yang memenuhi kebutuhan harian Mimi. Mulai dari memandikan, buang air, ganti popok, hingga makan. Belum lagi, rumah mereka tidak memiliki MCK. Ecih pun harus menimba dari masjid terdekat.


Ecih pernah beberapa kali dapat bantuan dari pihak yang berjanji mengurus. Namun, selalu berakhir dengan pemulangan Mimi. Sekali waktu, Mimi malah pernah ditemukan di jalan, terlunta-lunta, dengan bekas infus yang masih terlihat di tubuh. Tak ingin kejadian tersebut berulang lagi, Ecih memutuskan untuk merawat sendiri adiknya.

Selain mengurus Mimi, Ecih juga harus bekerja. Warga Kelurahan Kadubeureum, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang itu berjualan serabi. Penghasilan yang ia dapat berkisar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu dalam satu hari


Kebutuhan sehari-hari Ecih saat ini terpenuhi dari hasil berjualan serabi. (ACTNews)

Berjualan serabi juga bukan perkara mudah. Ecih sering kali ditolak pelanggan karena keadaan Mimi. “Waktu itu ada yang mau pesan serabi ke saya. Cuma, setelah orang itu lihat Mimi, tidak jadi pesan,” jelas Ecih, saat ditemui Kamis (25/11/2021) lalu.

Ecih pun ingin belajar memperbaiki usahanya. Ia bersyukur bertemu dengan Global Wakaf-ACT pada April lalu. Setelah mendapatkan bantuan modal, Ecih meluaskan pasar dengan mendatangi teman-temannya. 

“Saya berusaha mengembalikan bantuan modal yang sudah diberikan. Di sisi lain, saya juga dapat pendampingan mengembangkan usaha. Saya bersyukur dan berharap dapat menjalani hidup yang lebih baik,” doanya. Hingga detik ini, Ecih tidak berhenti menyerah. Ikhtiar selalu ia lakukan untuk menyambung kehidupan. []