Jumat Pertama Ramadan, Great Return March Berlanjut

Ramadan di Gaza penuh dengan ketakutan dan keterbatasan

Jumat Pertama Ramadan, Great Return March Berlanjut' photo

ACTNews, GAZA - Ramadan di Gaza penuh dengan ketakutan dan keterbatasan, sebagaimana dikisahkan Ahmed Abu Artema, salah seorang penulis di Gaza. Pasalnya, puluhan warga Palestina terbunuh dalam serangan militer Israel yang terjadi akhir pekan lalu ketika umat muslim dunia tengah bersiap menyambut kedatangan Ramadan. Di antara korban yang meninggal, ada dua wanita hamil dan seorang bayi yang baru berusia 16 bulan.


Seperti semua orang tua di Gaza, Ahmed mengaku sempat merasa kebingungan dalam menenangkan anak-anaknya setiap kali bom Israel jatuh di Tanah Gaza. “Setiap ada ledakan, anak-anak saya lari ketakutan. Saya coba menenangkan mereka, saya bilang, ‘ledakan itu jauh dari rumah kita, mereka dekat laut, mereka tidak akan mendekati kita,” Ahmed mulai bercerita.


Ahmed terpaksa menyembunyikan kebenaran demi mengurangi dampak negatif terhadap kondisi psikis anak-anaknya. Padahal, Ahmed pun menyadari bahwa tidak ada seorang pun di Gaza yang akan aman. Katanya, Israel telah membunuh banyak anak yang juga seusia dengan anak-anaknya.


“Israel telah mengendalikan perbatasan (Gaza-Israel) dan kemampuan kami untuk bergerak. Kami menjadi tahanan di tanah air kami sendiri. Kami ditolak haknya untuk melakukan perjalanan secara bebas, kami tidak memiliki kesempatan mengejar pendidikan, tidak memiliki pekerjaan, bahkan tidak mendapat izin untuk mengunjungi keluarga di kota lain. Mereka memblokade seluruh kehidupan kami,” papar Ahmed.


Tak ingin menyerah terhadap perlakuan tidak adil Israel, aksi menuntut kemerdekaan Great Return March terus berlanjut pada Jumat pertama Ramadan. Fakta menyebutkan, ribuan warga Palestina tetap mendatangi perbatasan, meski sedang menjalankan ibadah puasa. Harapannya satu: Ramadan tahun ini dapat membawa perubahan baik nan besar bagi bangsa Palestina.




Namun, fakta menyebutkan, Israel pun tidak berhenti melancarkan tindakan represifnya. Melansir Relief Web, pada aksi Great Return March Jumat (10/5), militer Israel telah menewaskan satu pengunjuk rasa. Juga melukai 50 lainnya yang antara lain sepuluh anak, dua wanita, satu paramedis, dan seorang jurnalis. Sebagian dari mereka terluka oleh tembakan langsung dan tabung gas air mata.


Ahmed benar, Ramadan kali ini juga menjadi bulan berkabung bagi warga Palestina, termasuk ia dan keluarganya. Selagi serangan dan blokade belum berakhir, tidak akan ada jalan keluar bagi warga Palestina, selain terus berjuang dalam memperoleh kembali hak atas tanah air dan kemerdekaan mereka lewat aksi Great Return March.


“Israel tidak bisa mengendalikan hidup kita selamanya. Palestina, ingin hidup bebas, sama seperti semua orang di dunia,” tegas Ahmed. []



Sumber foto: Dok. ACT, Democracy Now

Bagikan

Terpopuler