Jumlah Pewakif Muda Kini Mendominasi

Keikutsertaan anak muda dalam berwakaf lebih banyak ketimbang generasi di atasnya. Hal ini diperkirakan sebab adanya digitalisasi yang memudahkan penyaluran dan akses literasi wakaf.

literasi wakaf tunai
Ilustrasi. Di samping kemampuan berwakaf, kaum muda juga diharapkan dapat mengembangkan ekosistem wakaf. (ACTNews/Saiful Anam)

ACTNews, JAKARTA – Jagat digital yang terus berkembang membuat wakaf kini lebih mudah dilakukan. Digitalisasi menarik minat anak muda untuk berwakaf. Bahkan jumlah pewakif muda saat ini menjadi lebih banyak ketimbang pewakif yang berusia lanjut.

Berdasarkan data dari Forum Wakaf Produktif, rentang usia, profil donatur kalangan milenial (24-35 tahun) mendominasi sebesar 48 persen. Angka itu jauh lebih besar berbanding dengan rentang usia 35-55 tahun, yakni hanya 35 persen, sementara usia lebih dari 55 tahun di angka 11 persen.

“Sejak ada intervensi digital, ada perubahan profil donatur. Saat ini (wakaf) sudah mulai bergeser ke kalangan milenial. Milenial berwakaf memang (jumlah donasinya) tidak besar, tetapi jumlah (mereka yang berwakaf) sangat besar,” kata Ketua Forum Wakaf Produktif Bobby Manullang, dalam webinar Gerakan Wakaf Nasional, Januari lalu.


Ilustrasi. Kemudahan berwakaf melalui platform digital diharapkan memudahkan wakif. (ACTNews/Reza Mardhani)

Kemudahan wakaf sama mudahnya dengan mendapatkan literasi wakaf saat ini. Demikian yang membuat anak muda lebih gandrung berwakaf. Bobby menilai, kaum muda atau yang ia sebut dengan kaum milenial adalah masa depan sektor wakaf yang perlu dibidik dengan cermat.

Menurut Bobby, kalangan milenial yang ada saat ini memang belum memiliki pendapatan yang besar. Namun, kata dia, dengan literasi yang kuat tentang wakaf diiringi dengan inovasi yang memudahkan berwakaf, diharapkan timbul loyalitas di kalangan tersebut.

Tak hanya menjadi wakif, generasi muda dinilai berperan besar mengembangkan wakaf karena menguasai perkembangan teknologi dan memahami pemasaran digital yang menjadi kunci pengembangan wakaf uang.


“Dalam sejarah perkembangan Islam, fondasi peradaban dibangun oleh anak-anak muda yang terus ingin melakukan perubahan,” ucap Direktur Eksekutif Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Ventje Raharjo pada awal Maret lalu.

Begitu juga Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Muhammad Nuh yang mengatakan bahwa generasi milenial merupakan investasi masa depan ekonomi syariah dan filantropi Islam. BWI pun gencar melakukan gerakan literasi dan sosialisasi kalangan anak muda, terlebih di dunia kampus. “Langkah ini penting, untuk menyiapkan generasi yang inklusif terhadap perkembangan zaman dan teknologi dengan basis literasi perwakafan yang baik,” ucapnya.[]