Jutaan Warga Yaman Jalani Ramadan Tanpa Penghasilan

Jutaan Warga Yaman Jalani Ramadan Tanpa Penghasilan

Sejak 2016, jutaan karyawan dan pegawai pemerintahan di Yaman tak lagi mendapatkan penghasilan. Ramadan di Yaman kini makin berat―bukan hanya bagi para pengungsi internal, namun juga bagi mereka yang dulunya “berada”.

ACTNews, MA’RIB, Yaman - “Saya dulunya seorang dosen di sekolah penerbangan. Tapi, sejak Agustus 2016, saya sudah tidak menerima gaji bulanan lagi,” ungkap Akram Alsharief melalui sambungan telepon kepada ACTNews. Ia merupakan seorang warga Yaman yang tinggal di Ma’rib, ibukota Provinsi Ma’rib.

Hampir setahun belakangan ini, ia tak lagi bisa bergantung seutuhnya pada pekerjaannya sebagai dosen. Untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, ia fokus bekerja di lembaga kemanusiaanpekerjaan yang cukup lama ia emban di sela-sela waktu mengajarnya.

Kondisi demikian nyatanya juga dialami sebagian besar warga di Yaman. Pegawai pemerintahan tidak menerima gaji bulanan mereka selama berbulan-bulan. Perusahaan swasta ikut gulung tikar, sehingga berimbas pada pemutusan hubungan kerja massal. Sementara sejumlah UKM mendadak lesu akibat rendahnya daya beli masyarakat. Hal ini juga diungkapkan oleh salah satu ahli ekonomi Yaman, Saeed Abdulmomin.

“Semuanya berakar pada konflik dan perebutan kekuasaan,” papar Akram, yang juga merupakan salah satu mitra ACT di Yaman. Eskalasi konflik vertikal telah memicu adanya dua wilayah kekuasaan di Yaman. Kisruh konflik turut menggerogoti sistem produksi mata uang di bank sentral di Yaman.  

“Ketidakstabilan produksi mata uang ini berdampak pada ketidakmampuan pemerintah untuk menggaji para pegawai pemerintahan,” jelas Akram.

 

Hal tersebut membuat seisi Yaman nyaris lumpuh total. Menurut Akram, sebagian besar masyarakat di sana merupakan pegawai pemerintahan dan wirausahawan/pedagang. Tanpa penghasilan, kegiatan perdagangan di ibukota Sana’a dan beberapa kota di Yaman Utara ikut lesu. Beberapa pedagang bahkan meninggalkan Yaman untuk memulai usaha mereka kembali di negeri tetangga.

  

Kemiskinan dan Kelaparan Merata 

Kebutuhan pokok kian tak terjangkau. Kemiskinan dan kelaparan tidak lagi menjerat para pengungsi internal, namun juga kaum menengah di Yaman. Akram lantas memberikan sebuah contoh nyata tentang apa yang terjadi di desanya.

Ia menjelaskan, masyarakat di desa umumnya sangat bergantung pada bisnis dan perdagangan. Kebanyakan kegiatan bisnis dan perdagangan berpusat di Kota Taiz. Namun kini Taiz telah hancur. Mereka meninggalkan kota itu dan kembali ke kampung halaman. 

“Mereka awalnya mencoba bertahan hidup menggunakan tabungan mereka. Namun, lama kelamaan tabungan itu menyusut. Lalu mereka mulai menjual aset-aset mereka yang lain seperti mobil, perhiasan, dan lahan pertanian,” paparnya. 

Mereka yang dulunya berpunya, perlahan tak mampu lagi memenuhi kebutuhan pokok. Roti menjadi satu-satunya menu makanan yang mengisi perut mereka setiap harinya. Sementara mereka yang pra-sejahtera, semakin tak berdaya menahan lapar hari demi hari. Akram menambahkan, sekitar 70% masyarakat Yaman saat ini menderita kelaparan.

“Konflik dan krisis kelaparan ini telah berlangsung begitu lama. Ramadan kali ini kondisinya semakin parah. Ini sangat mempengaruhi fisik dan psikologis masyarakat Yaman, terutama para pengungsi internal,” tambahnya. []